IDENTIFIKASI JENIS KARANG YANG MASIH ADAPTIF DENGAN LINGKUNGAN PADA PESISIR DERMAGA PENYEBERANGAN LABUHAN LOMBOK SEBAGAI KAJIAN PADA MATA KULIAH PENGETAHUAN LINGKUNGAN

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.      Latar Belakang

Indonesia merupakan Negara kepulauan terbesar di dunia dengan jumlah pulau terbanyak 17.508 pulau, garis pantai sepanjang 81.000 km, dan luas lautan 5,8 juta km (75% dari total luas wilayah indonesia). Di wilayah daratan terdapat perairan umum (sungai, rawa, danau, waduk dan genangan air lainnya) seluas 54 juta ha atau 0,54 juta km2 (27% dari total wilayah daratan indonesia). Dengan demikian, Indonesia adalah sebuah Negara yang dikelilingi oleh air. Rokhmin dahuri ( 2004) dengan meminjam judul sebuah filem, menyebut Indonesia sebagai a water world.[1]

Distribusi penduduk yang mendiami pulau ditambah dengan aktivitas yang demikian banyak yang dilakukan oleh penduduk merupakan salah satu faktor penyebab rusaknya terumbu karang. Penduduk di pulau melakukan aktivitas seperti penangkapan ikan di terumbu karang, melakukan penambangan karang dan menghasilkan berbagai limbah yang masuk ke ekosistem terumbu karang. Pada pulau yang padat penduduk, umumnya telah tercemar oleh limbah berbahaya, yang tidak hanya berbahaya bagi ekosistem terumbu karang dan biota-biota yang ada di laut, tetapi berbahaya juga bagi konsumen yang mengonsumsi biota-biota tersebut.

 

Hubungan penduduk antar satu pulau dengan lainnya dilakukan dengan alat transportasi laut salah satunya berupa kapal laut. Pada awalnya, keberadaan alat transportasi ini dapat memberikan keuntungan bagi manusia karena dapat mempercepat penyampaian tujuan. Namun, jika keberadaan alat transportasi tersebut jika tidak dikontrol dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan pada terumbu karang dan biota-biota tersebut. Alat transportasi laut memerlukan darmaga atau pelabuhan di pesisir pantai. Dimana, pelabuhan atau dermaga tersebut sangat penting untuk alat transportasi laut. Namun, keberadaan dari bangunan-bangunan tersebut dapat merusak ekosistem terumbu karang dan biota-biota laut.

 Alat transportasi umumnya menggunakan bahan bakar dan terjadi pembuangan sisa bahan bakar ke laut seperti  asap hasil pembakaran, oli, minyak kapal maupun sisa-sisa pembakaran yang lainnya. Dari semua pembuangan sisa bahan bakar tentunya  sangat mempengaruhi terhadap pertumbuhan ekosistem terumbu karang. Penyeberangan pulau Lombok ke pulau sumbawa, tampak terlihat adanya minyak dan oli yang mengapung di permukaan air laut. Minyak dan oli ini berasal dari alat transportasi laut seperti kapal feri, perahu yang digunakan para nelayan untuk menangkap ikan. Oleh sebab itu hasil pembuangan tersebut sangat mempengaruhi komunitas hewan dan tumbuhan di ekosistem pantai seperti komunitas terumbu karang.

Pantai merupakan tempat beradanya suatu ekosistem terumbu karang yang memiliki fungsi sebagai, habitat ribuan biota, pemijahan, pengasuhan, pembesaran dan tempat mencari makanan dari kebanyakan biota laut. Di samping itu ekosistem terumbu karang merupakan bagian dari ekosistem laut, yang selain menyuplai kehidupan ke laut, juga sebagai bagian penting dari laut untuk keseimbangan ekosistem. Terumbu karang merupakan komponen pelindung pantai dari arus, terapan ombak dan gelombang.[2]

Permasalahan buangan limbah bahan bakar ke pantai mempengaruhi ekosistem terumbu karang seperti pembuangan limbah kapal berupa oli atau sisa bahan  bakar kapal laut. Hal tersebut dapat mempengaruhi perkembangan terumbu karang. Seperti hasil observasai yang peniliti lakukan Labuhan Lombok. Selain dari akibat pembuangan limbah bahan bakar kapal ke daerah perairan serta penambangan liar yang dilakuakan penduduk setempat terhadap terumbu karang. sehingga sekarang daerah tersebut sangat sulit ditemukan keberadaaan terumbu karang, padahal lima tahun kebelakang, daerah tersebut merupakan contoh tempat terdapat terumbu karang.

Perubahan kondisi fisik dan kimia suatu habitat misalnya pencemaran akan menyebabkan organisme akan mati atau akan mengalami adaptasi untuk mempertahankan hidup, tetapi tidak semua spesies mampu adaptif. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa terumbu karang yang masih adaftif masih mengandung kehidupan di terumbu karang tersebut. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui terumbu karang yang masih adaptif dengan lingkungan.

Pada penelitian terdahulu SUPARMOKO et al. (2005a) telah menghitung nilai ekonomi terumbu karang di Kabupaten Sikka. Hasil penelitiannya menyatakan bahwa nilai terumbu karang sebagai bahan bangunan di Kabupaten Sikka adalah sebesar Rp. 11,6 milyar yang dihitung dari volume karang lebih kurang 23.200.000 m3 atau Rp. 500/m3. Selanjutnya di Pulau Kangean, nilai terumbu karang sebagai bahan bangunan yang dihitung dari volume karang sebesar 24.400.000 m3 adalah Rp. 995,32 milyar (Rp. 40.700/m3). Nilai terumbu karang diketiga lokasi tersebut bervariasi, hal ini dipengaruhi oleh harga karang/m3 yang berbeda disetiap lokasi.[3]

  1. B.      Rumusan Masalah dan Batasan Masalah
    1. Rumusan Masalah.
    2. Apa saja jenis-jenis terumbu karang yang masih adaptif dengan lingkungan di pesisir penyeberangan Labuhan Lombok?
    3. Bagaimanakah ciri-ciri morfologi terumbu karang yang ditemukan   yang masih adaptif dengan lingkungan di pesisir penyeberangan Labuhan Lombok?
    4. Apakah hasil penelitian ini bisa dijadikan sebagai materi yang bisa disajikan sebagai acuan pada mata kuliah pengetahuan lingkungan khususnya jurusan pendidikan IPA Biologi IAIN Mataram?

 

  1. Batasan Masalah
  2. Penelitian ini akan meneliti dari pinggir pantai sampai 100 meter ke tengah laut disekitar pelabuhan.
  3. Mengidentifikasi jenis karang yang masih hidup.
  4. Sebagai kajian pada petunjuk praktikum pengetahuan lingkungan pada acara pencemaran lingkungan.
    1. C.      Tujuan dan Manfaat Penelitian
      1. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian ini adalah:

  1. Untuk mengidentifikasi jenis-jenis terumbu karang yang masih adaptif di pesisir pantai Labuhan Lombok yang diakibatkan oleh pembuangan limbah kapal.
  2. Untuk mengetahui ciri-ciri terumbu karang yang masih adaftif dengan lingkungan di pesisir pantai Labuhan Lombok.
  3. Untuk mengetahui hasil penelitian ini dapat dikembangkan sebagai materi pada kajian mata kuliah  pengetahuan lingkungan khususnya pada mahasiswa pendidikan jurusan  IPA Biologi IAIN Mataram.
    1. Manfaat Penelitian
    2. Manfaat Teoritis

1)      Dengan adanya penelitian ini, diharapkan dapat menambah khazanah ilmu pengetahuan, khususnya pada mata kuliah pengetahuan lingkungan, di jurusan IPA Biologi IAIN Mataram yang berkaitan dengan dampak pencemaran lingkungan terhadap biota setempat.

2)      Dengan adanya penelitian ini, diharapkan dapat menjadi suatu bahan rujukan atau ajuan bagi peneliti selanjutnya.

3)      Penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan wawasan yang tinggi dan pengalaman yang luas bagi peneliti.

  1. Manfaat Praktis

1)      Dari informasi yang diperoleh, diharapkan khususnya pada masyarakat yang bertempat tinggal di daerah pantai agar tidak melakukan penambangan terumbu karang sebagai bahan pencaharian.

2)      Diharapkan pemerintah dapat bertindak tegas dalam menanggulangi kerusakan terumbu karang yang diakibatkan oleh pembuangan limbah yang dilakukan oleh pihak terkait.

  1. D.      Penegasan Istilah

Skripsi ini berjudul “Indentifikasi jenis karang yang masih adaptif dengan lingkungan pada pesisir dermaga penyeberangan  labuhan lombok sebagai kajian pada mata kuliah pengetahuan lingkungan” agar tidak terjadi perluasan makna terdapat istilah yang terdapat dalam judul penelitian ini, maka berikut akan dijelaskan secara terperinci mengenai istilah-istilah yang digunakan pada judul.

 

 

  1. Indentifikasi.

Indentifikasi merupakan pengumpulan data tentang contoh organisme yang diamati atau diteliti juga penelaahan mengenai organisme tersebut. Organisme yang memiliki ciri yang sama dimasukkan dalam kelompok yang sama.[4] Identifikasi adalah proses pengenalan takson biologi dengan cara membandingkan atau menyamakan dengan contoh sebelumnya.[5]

Identifikasi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah mengamati contoh terumbu karang yang terumbu karang yang masih adaptif dengan lingkungan di dermaga pesisir penyeberangan Labuhan Lombok.

  1. Terumbu Karang.

Terumbu karang merupakan bangunan kalsium karbonat yang terdiri dari karang, pasir karang dan batu kapur padat. Terumbu karang menjadi tempat hidup dari komunitas kehidupan laut yang amat beragam. Hewan karang hanya merupakan sebagian saja mahluk pembentuk terumbu, sedangkan selebihnya adalah organisme lain seperti alga, moluska dan lain-lain.[6]

Dalam buku lain juga dijelaskan bahwa terumbu karang (coral reefs) merupakan kelompok organisme yang hidup di dasar perairan laut dangkal, terutama di daerah tropis. Meskipun karang ditemukan hampir diseluruh dunia, baik di peraian kutub maupun di perairan uguhari, tetapi hanya di daerah tropik terumbu karang dapat berkembang. Karena pembentukan terumbu karang digunakan untuk membatasi lingkungan lautan tropik.[7]

Berdasarkan definisi di atas, maka terumbu karang yang dimaksud dalam penelitian ini adalah terumbu karang yang masih adaftif dengan lingkungan penyebrangan Labuhan Lombok.

  1. Karang yang Masih Adaptif .

Terumbu karang yang masih adaptif adalah terumbu karang yang masih  mengandung berbagai jenis kehidupan di dalamnya seperti sponge dan cacing kipas kecil.[8] Terumbu karang yang masih adaftif adalah gunung kalsium karbonat yang berada di bawah laut. Gunung ini terdiri dari karang, pasir karang, dan batu kapur padat. Tak lama setelah mulai terbentuk, terumbu menjadi pondasi atau dasar bagi komunitas kehidupan laut yang dinamis dan amat beragam.[9]

Terumbu karang yang masih adaptif yang dimaksud dalam penelitian ini adalah terumbu karang yang masih mengandung berbagai jenis-jenis kehidupan, hewan-hewan laut dan biota-biota setempat.

 

 

 

 

  1. Pengetahuan Lingkungan.

Lingkungan merupakan jumlah semua benda yang hidup dan tidak hidup serta kondisi yang ada dalam ruang yang kita tempati.[10] Ilmu lingkungan merupakan salah satu ilmu khususnya yang membahas masalah lingkungan, mulai dari apa yang dimaksud dengan lingkungan, apa saja yang menyusun lingkungan, bagaimana lingkungan dapat dikatakana lestari, apa saja yang menyebabkan penurunan kualitas kelestarian lingkungan tersebut dan bagaimana cara mengatasi permasalahan lingkungan. Semua itu dibahas dalam ilmu pengetahuan lingkungan. Oleh karena itu pada mata kuliah pengetahuan lingkungan khususnya tidak terlepas dari pengamatan lingkungan sekitar, apakah lingkungan biotik maupun lingkungan abiotik, sehingga salah satu tujuan akhir dari hasil penelitian ini, pada akhirnya dapat dimanfaatkan sebagai kajian pada mata kuliah pengetahuan lingkungan mahasiswa IAIN Mataram.

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

  1. A.      Tinjauan Tentang Terumbu Karang
    1. Definisi Terumbu Karang

Terumbu karang (coral reefs) merupakan masyarakat organisme yang hidup di dasar perairan laut dangkat terutama di daerah tropis. Terumbu karang disusun oleh karang-karang jenis anthozoa dari klas scleractinia, yang mana termasuk hermatyfic coral atau jenis-jenis karang yang mampu membuat bangunan atau kerangka karang dari kalsium karbonat (Vaughan dan wells, 1943). Struktur  bangunan batuan kapur tersebut (CaCO3) cukup kuat, sehingga koloni karang mampu menahan gelombang dari air laut. Sedangkan asosiasi organisme-organisme yang dominan hidup di sini di samping scleractinian adalah algae yang banyak diantaranya juga mengandung kapur (dawes, 1981).[11]

Terumbu karang (coral reefs) merupakan kelompok organisme yang hidup di dasar perairan laut dangkal, terutama di daerah tropis. Meskipun karang ditemukan hampir di seluruh dunia, baik di perairan kutub maupun di perairan Uguhari, tetapi hanya di daerah tropik terumbu dapat berkembang, karena pembentukan terumbu karang digunakan untuk membatasi lingkungan lautan tropik.[12]

Terumbu karang merupakan bangunan kalsium karbonat yang terdiri dari karang, pasir karang dan batu kapur padat. Terumbu karang menjadi tempat hidup dari komunitas kehidupan laut yang amat beragam. Hewan karang hanya merupakan sebagian saja mahluk pembentuk terumbu, sedangkan selebihnya adalah organisme lain seperti alga, molusca dan lain-lain”.[13]

Adapun fungsi dari ekosistem terumbu karang adalah:

  1. Pelindung panatai dari aspek aseanografi dan klimatologi seperti angin pasang surut, arus, dan badai.
  2. Sumber plasma nutfah dan biodiversitas atau keanekaragaman yang diperlukan bagi industri pangan, bioteknologi dan kesehatan.
  3. Tempat hidup ikan, baik ikan hias maupun ikan target, yaitu ikan-ikan yang tinggal di terumbu karang.
  4. Tempat perlindungan avertebrata dari predator.
  5. Penghasil organik (produktivitas organik) yang sangat tinggi sehingga menjadi tempat mencari makan, tempat tinggal, maupun penyamaran bagi komunitas ikan.
  6. Khusus untuk karang batu, sebagai konstruksi jalan dan bangunan, bahan baku industri dan perhiasan.
  7. Komoditi perdagangan untuk jenis teripang (kelas holothuroidea).
  8. Secara sosial ekonomi sebagai daerah perikanan tangkap, wisata, maupun penambangan batu.[14]

Dari definisi-definisi di atas, disimpulkan bahwa terumbu karang merupakan hewan yang hidup di dasar laut yang bersimbiosis dengan alga, molusca dan lain-lain. Terumbu karang biasanya hidup di daerah yang tropis, airnya yang jernih tanpa ada campur tangan manusia seperti pembuangan sampah, pembuangan limbah kapal.

  1. Struktur Terumbu Karang

Karang memiliki berbagai bentuk, ukuran dan warna ada yang menyerupai batang tanaman dan ada juga yang menyerupai daun. Selain itu, ada juga karang yang menyerupai otak yang bentuknya bulat seperti bola dan bentuknya berkerut sehingga tampak seperti otak manusia. Kipas laut juga merupakan karang, strukturnya pipih dan menyerupai kipas yang membentang dari dasarnya. Karang pipa organ bentuknya seperti pipa organ dan hidup di samudra tropis indo pasifik. Bentuk dan pola karang yang beragam ini merupakan ciri khas setiap spesies dan merupakan hasil pola pertumbuhan jutaan binatang kecil yang membentuk suatu koloni.[15]

Struktur tubuh pada terumbu karang yaitu:

  1. Calcarea mengeluarkan spikula (duri) dari kalsium karbonat
  2. Hexactinellida mempunyai spikula silika yaitu spikula yang terbuat dari silika, yang kita kenal sebagai kwarsa atau pasir. Hewan ini dikenal sebagai bunga karang gelas.
  3. Demospongia mempunyai spikula spongia, yaitu kerangka dari spongia, dan kerangka yang terbuat dari spikula dan spongia.[16]
  4. Klasifikasi dan Jenis-jenis Terumbu Karang

Dalam sistem klasifikasi, pengelompokan dilakukan berdasarkan persamaan dan perbedaan ciri yang dilakukan mahluk hidup. Mahluk hidup yang mempunyai kesamaan ciri dikelompokkan menjadi satu kelompok, dan mempunyai perbedaan ciri membentuk kelompok yang lain. Jika masih terdapat perbedaan-perbedaan, dikelompokkan lagi dalam kelompok yang lebih kecil, sehingga terbentuk suatu susunan kelompok yang disebut takson.

Banyak atau sedikitnya perbedaan mahluk hidup menentukan jenjang takson dan janjang kekerabatan. Semakin banyak persamaan semakin dekat kekerabatannya, dan sebaliknya, semakin sedikit persamaan semakin jauh kekerabatannya. Corolus lineus membuat 7 kategori pengelompokkan mahluk hidup, yaitu kingdom (kerajaan), filum (keluarga besar), class (kelas), ordo (bangsa), family (suku), genus (marga), dan spesies (jenis).[17]

  1. Klasifikasi Terumbu Karang

Klasifikasi terumbu karang dimaksudkan untuk mendapatkan kelas bagian terumbu karang agar lebih mudah dirubah ke format vektor. Klasifikasi yang digunakan adalah Unsupervised Classification. Klasifikasi anggota/bagian ekosistem terumbu karang lebih didasarkan pada aspek keruangan dari karakteristik tempat tumbuh terumbu karang tersebut.[18]

Tabel: klasifikasi terumbu karang berdasarkan warnanya.

Warna pada transpormasi lyzenga calor on lyzenga transformation

Kelas class

Warna hasil klasifikasi result clasifikation color

Warna cyan

Kelas karang hidup

Cyan

Warna hijau tua

Kelas karang mati

Merah

Warna hijau samping kuning

Kelas rubble/pecahan karang

Oranye

Warna orenye

Kelas lamun

Hijau muda

Warna merah

Kelas pasir halus

Kuning

 

  1. Jenis-Jenis Terumbu Karang.

Pada dasarnya, ada dua jenis karang, yaitu karang lunak dan karang keras. Karang lunak adalah jenis karang yang jaringannya menutupi kerangka dalam yang lunak. Adapun karang keras adalah sejenis karang yang menghasilkan kerangka luar yang keras dan berat yang terbuat dari kalsium karbonat.[19]

Berdasarkan bentuk struktur di bawahnya terumbu karang dapat dikelompokkan menjadi tiga yaitu karang atol, karang tepi dan karang penghalang.

1)               Karang atol tumbuh sebagai koloni di puncak gunung berapi bawah laut yang muncul dari dasar laut. Bentuknya seperti kue donat yang mengikuti bentuk puncak gunung berapi.

2)               Karang tepi merupakan terumbu karang yang melebar ke arah laut dari pantai. Karang tepi seringkali mengikuti bentuk luar pulau.

3)               Karang penghalang atau barrier reef terbentuk dari bentangan pantai yang dangkal. Terumbu dan daratan dipisahkan oleh laguna dangkal, tetapi kadang cukup dalam sehingga dapat dilalui oleh kapal.[20]

  1. Anatomi dan Morfologi Terumbu Karang
  2. Anatomi Terumbu Karang

Anatomi adalah ilmu yang mempelajari organ-organ bagian dalam pada tubuh  mahluk hidup. Anatomi pada terumbu karang adalah:

1)               Mulut dikelilingi oleh tentakel yang berfungsi untuk menangkap mangsa dari perairan serta sebagai alat pertahanan diri.

2)               Rongga tubuh (coelenteron) yang juga merupakan saluran pencernaan (gastrovascular).

3)               Dua lapisan tubuh yaitu ektodermis dan endodermis yang lebih umum disebut gastrodermis karena berbatasan dengan saluran pencernaan. Diantara kedua lapisan terdapat jaringan pengikat tipis yang disebut mesoglea. Jaringan ini terdiri dari sel-sel, serta kolagen, dan mukopolisakarida. Pada sebagian besar karang, epidermis akan menghasilkan material guna membentuk rangka luar karang. Material tersebut berupa kalsium karbonat (kapur).[21]

  1. Morfologi Terumbu Karang

Karang memiliki berbagai ukuran, bentuk dan warna. Ada yang menyerupai daun dan ada juga yang menyerupai tumbuhan. Ada pula karang yang bulat seperti seperti bola dan berkerut sehingga tampak seperti otak manusia. Bentuk karang ini yang beragam ini merupakan ciri khas setiap spesies dan merupakan hasil pola pertumbuhan jutaan hewan kecil yang membentuk suatu koloni. Selain bentuk yang beragam di dalam laut karang terlihat warna-warni. Bila karang mati atau dikeluarkan dari air warnanya akan memudar.[22]

Morfologi adalah ilmu yang mempelajari organ-organ bagian laur dari suatu makhluk hidup. Jadi morfologi pada terumbu karang yaitu:

1)               Tentakel, pada hewan karang digunakan untuk mencari makanan.

2)               Rangka, pada karang ini terbuat dari kalsium karbonat (CaCO3) atau batu kapur. Jika karang ini mati rangka pada karang masih tetap ada rangka inilah yang dijual sebagai hiasan.

3)               Zooxanthella, Tampak seperti bintik-bintik di dalam jaringan hewan karang yang hampir transparan.

4)               Coelenteron, Penyusun dari pada hewan karang yang mampu menghasilkan bangunan atau kerangka karang dari kalsium karbonat (CaCO3).[23]

  1. Reproduksi Terumbu Karang

Reproduksi adalah suatu proses biologis dimana individu organisme baru diproduksi. Binatang karang berkembang biak (bereproduksi) secara aseksual dan seksual.

  1. Secara aseksual karang berkembang biak melalui fragmentasi dan pertunasan (budding) untuk membentuk polip baru. Pembentukan tunas secara terus menerus merupakan mekanisme untuk menambah ukuran koloni baru (Nybakken, 1988). Tergantung pada spesiesnya, polip baru tumbuh secara ekstratentakular dan intertentakular. Pada pertunasan ekstratentakular, polip yang baru tumbuh dari setengah bagian tubuh ke bawah, sedangkan pada intertentakular, polip baru tumbuh dari penyekatan membujur mulai dari oral disk kea rah aboral. Proses pertunasan diikuti pembentukan sklerosepta dan mangkuk dari masing-masing polip baru (Suwignyo et al., 2005).
  2. Secara seksual atau kawin dilakukan melalui pemijahan atau pertemuan antara ovarium dan testis. Karang dapat bersifat hermaphrodite, dimana ovarium dan testis berada dalam satu individu polip, dan dioecious, yaitu ovarium dan testis berada dalam individu polip yang berbeda. Kebanyakan karang mencapai dewasa pada umur antara 7-10 tahun.[24]

Pada terumbu karang ada dua macam cara pembuahannya, yaitu:

  1. Telur-telur dibuahi di dalam gastrovascular cavity (viviparous), dan gonadnya berkembang di mesenterial chamber (biasanya untuk masive coral) atau dibody cavities (untuk branching coral), selanjutnya membebaskan produksinya berupa planula larva.
  2. Telur-telur dibuahi di luar tubuh yaitu di dalam air laut (bukan vivaparous). Namun berdasarkan hasil penelitian beberapa peneliti, diantaranya adalah Harrison et al (1984), karang cendrung lebih banyak yang bukan viviparous dari pada yang viviparous.[25]
  3. Ciri-ciri Terumbu Karang yang Masih Adaptif.

Ciri-ciri terumbu karang yang masih adaptif atau yang masih hidup yaitu terumbu karang yang masih mengandung berbagai jenis kehidupan didalamnya seperti sponge dan cacing kipas kecil.[26]

Dari pemaparan di atas, terumbu karang yang masih adaptif atau yang hidup adalah terumbu karang yang masih penuh dengan coralline algae yang warnanya cerah. Idealnya karang hidup bercela banyak atau berpori-pori.

  1. Pengaruh Ekosistem Terumbu Karang dengan Ekosistem Pesisir Pantai

Ekosistem terumbu karang adalah bagian dari ekosistem pesisir pantai dan lautan secara keseluruhan. Karena itu, terumbu karang merupakan salah satu pendukung ekosistem pesisir dan lautan. Demikian sebaliknya, ekosistem pesisir dan lautan terhadap terumbu karang, negative maupun negatif. Sebagai habitat, ekosistem terumbu karang merupakan tempat hidup, mencari makanan, pemijahan, pengasuhan, dan pembesaran sebagai biota, baik biota terumbu karang maupun biota laut lainya.[27]

Faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhi pertumbuhan terumbu karang:

  1. Suhu ideal agar karang dapat tumbuh dengan oftimal adalah antara 230C dan 270C. Karang tidak hidup pada suhu air yang lebih rendah dari pada 1800C dan lebih tinggi dari 300C.
  2. Sebagian besar karang hidup di perairan yang dangkal untuk tetap mendapatkan sinar matahari. Sinar matahari digunakan untuk fotosintesis ganggang penyedia bahan makanan dan oksigen.
  3. Perairan dangkal kadar garam (silinitas) 30-40 per seribu gram merupakan kondisi yang ideal untuk pertumbuhan karang. Itulah sebabnya kita tidak dapat menemukan karang di daerah mutiara, tempat pertemuan air tawar dan air asin.
  4. Karang tumbuh subur di daerah yang gelombang memasukkan udara ke dalam air, karena dapat meningkatkan persediaan makanan dan oksigen.[28]

Adapun pengaruh terumbu karang terhadap ekosistem pesisir pantai yaitu:

1)                                    Sebagai Habitat.

Ekosistem terumbu karang merupakan habitat bagi ribuan biota, baik sementara maupun menetap sepanjang hidup biota yang menetap terus menerus di terumbu karang seperti hewan karang, anemon, kima  dan akar bahar. Biota-biota tersebut selama hidup tidak berpindah-pindah, menetap. Kecuali bila dipindahkan. Ada juga biota yang selama hidupnya di daerah terumbu karang, akan tetapi dapat berpindah dari satu lokasi ke lokasi yang lain, misalnya ikan-ikan hias, ikan kerapu dan lain-lain. Dan hanya biota yang hanya hidup sementara di terumbu karang karena memijah, mencari makan.[29]

Dari penjelasan di atas, habitat merupakan tempat hidup biota-bioata laut, baik dalam jangka waktu sementara maupun dalam jangka panjang. Dimana habitat itu sendiri merupaka tempat berkembangbiaknya terumbu karang maupun hewan-hewan yang lain.

 

2)               Sebagai Pendukung Ekosistem Laut.

Terumbu karang merupakan ekosistem perairan laut dangkal paling produktif di perairan laut tropis. Terumbu karang sering dijumpai di ekosistem perairan yang sangat miskin akan unsur hara dan mempunyai produktivitas primer yang terendah, akan tetapi produktivitas di ekosistem terumbu karang itu sendiri sangat tinggi. Produktivitas primer pada ekosistem terumbu karang antara 1.500-3.500 g/cm2/tahun (stoddart1969; 1971), mencapai 100 kali lebih besar dari pada laut tropis dan skitarnya. Karena itu, terumbu karang sering diibaratkan sebagai “oasis” di perairan laut dangkal (Salm,1984).[30]

Berbagai upaya untuk menjaga laut agar kualitas lingkungan laut tetap diantaranya adalah:

a)               Meningkatkan kesadaran masyarakat dan berpartisipasi untuk menjaga dan mengelola laut seperti, penanaman mangrove dan pelarangan penebangan hutan mangrove. Hutan mangrove yang telah ditebang dapat ditanam kembali atau disebut juga dengan reboisasi mangrove.

b)               Transpalasi terumbu karang, seperti haknya menanam pohon, terumbu karang juga dapat ditanam di dalam laut. Terumbu karang dapat ditanam pada balok-balok semen atau pipa paralon.

c)               Pemerintah harus membuat peraturan lokal agar masyarakat tidak melakukan perusakan terhadap berbagai ekosistem dan sumberdaya laut.

d)              Untuk kegiatan pariwisata, pengelola maupun wisatawan harus menjaga lingkungan laut.[31]

Dari definisi-definisi di atas, ekosistem terumbu karang adalah bagian dari ekosistem pesisir pantai dan lautan secara keseluruhan. Jadi terumbu karang merupakan salah satu pendukung ekosistem pesisir dan lautan. Demikian sebaliknya ekosistem pesisir dan lautan terhadap terumbu karang negative maupun positif. Terumbu karang sebagai tempat hidup bagi biota-biota, baik bota terumbu karang maupun biota laut lainya.

3)               Sebagai Pelindung Pantai

Secara ekologis, terumbu karang berfungsi melindungi komponen ekosistem pesisir lainnya (lahan pantai) dari gempuran gelombang dan badai. Breakwater alami ini berfungsi melindungi back reef dari gelombang besar. Languna atau goba di daerah back reef biasa sangat dalam dan sangat jernih, sehingga terumbu karang tumbuh sangat subur karena bebas dari serangan badai dan ombak besar, laguna di daerah tersebut sering dimanfaatkan sebagai pelabuhan pendaratan perahu atau kapal.[32]

Terumbu karang sangat berperan penting sebagai pelindung ekosistem pantai, dimana terumbu karang ini berfungsi sebagai pelindung pantai yang kokoh dari terpaan gelombang air laut, tsunami dan berbagai macam ancaman yang dapt merusak dari pada ekosistem laut tersebut. Apabila terumbu karang diambil atau dirusak otomatis pertahanan yang ada di pantai itu mengalami kerusakn, akibatnya pantai akan mengalami abrasi (pengkikisan) oleh terpaan ombak yang besar, bahkan pulau-pulau kecil karang akan tenggelam.

  1. Pengaruh Limbah Bahan Bakar Pada Perairan Laut

Limbah adalah mendayaguna-gunakan unsur-unsur dari alam, dan membuang kembali segala sesuatu yang tidak dipergunakan lagi kembali ke alam.[33] Jadi limbah bahan bakar yaitu sisa pembakaran transportasi laut, yang di buang ke perairan laut seperti minyak, oli. Dari pembuangan transportasi laut ini dapat menyebabkan pencemaran pada perairan laut.

Pencemaran di laut dan pantai barasal dari limbah rumah tangga dan limbah industri. selain itu, aktifitas pengangkutan bahan bakar minyak atau aktivitas kapal menyebabkan laut tercemar oleh tumpukan minyak. Akibatnya biota-biota perairan tidak tahan bertahan hidup.[34]

Dari definisi-definisi di atas, limbah bahan bakar sangat mempengaruhi  perkembangan ekosistem terumbu karang seperti, pembuangan limbah kapal berupa oli atau sisa bahan  bakar kapal laut. Hal tersebut dapat mempengaruhi perkembangan terumbu karang.

  1. B.       Tinjauan Mata Kuliah Pengetahuan Lingkungan
    1. Definisi Mata Kuliah Pengetahuan Lingkungan.

Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada disekitarnya, baik berupa benda hidup, benda mati, ataupun abstrak, termasuk manusia lainnya, serta suasana yang terbentuk karena terjadi interaksi diantara elemen-elemen di alam tersebut.[35]

Dalam ilmu ekologi yaitu suatu ilmu yang mempelajari semua jenis mahluk hidup termasuk manusia, dan kaitannya dengan lingkungan. Dimana lingkungan manusia atau lingkungan hidup adalah segala sesutau yang ada disekekliling manusia, baik yang berbentuk “benda mati” maupun “jasad-jasad atau organisme-organisme hidup” dan “manusia-manusia lain”.[36]

Dari definisi-definisi di atas ilmu lingkungan merupakan ilmu yang membahas masalah lingkungan, mulai dari apa yang dimaksud dengan lingkungan, apa saja yang menyusun lingkungan, bagaimana lingkungan dapat dikatakan lestari, apa saja yang menyebabkan penurunan kualitas kelestarian lingkungan tersebut dan bagaimana cara mengatasi permasalahan lingkungan.

 

 

  1. Pembahasan Pada Mata Kuliah Pengetahuan Lingkungan.

Pencemaran lingkungan kadang-kadang tampak jelas pada kita seperti timbunan sampah di pasar-pasar, pendangkalan sungai yang penuh kotoran, ataupun sesaknya nafas karena asap knalpot ataupun cerobong asap pabrik. Tetapi ada juga yang kurang nampak misalnya musik yang memekakkan telinga yang keluar dari peralatan elektronik modern. Ion fospat dalam limbah pabrik merupakan pencemaran, tetapi merupakan rabuk yang baik bagi pepohonan.

Jadi yang dimaksud dengan pencemaran lingkungan adalah bila berpengaruh jelek terhadap lingkungan. Lingkungan mempunyai penyimpangan akibat pencemaran itu. Susunan udara yang tercemar akan mempunyai komposisi lain dari pada udara normal, udara bersih disekitar kita. Yang mengotori atau yang mengubah susunan lingkungan kita tidak dimasukkan pencemaran, kecuali kalau mempunyai pengaruh jelek terhadap lingkungan.[37]

Dari definisi-definisi di atas, pembahasan pada mata kuliah pengetahuan lingkungan ini adalah “pencemaran lingkungan”  yaitu apa saja benyebab pencemaran pada lingkungan, seperti pencemaran air, pencemaran tanah, pencemaran udara, pencemaran makanan. Diharapkan setelah menempuh mata kuliah pengetahuan lingkungan, dengan materi “Pencemaran Lingkungan” dapat mengetahui cara-cara menanggulangi pencemaran pada lingkungan.

BAB III

METODE PENELITIAN

  1. A.      Desain Penelitian

Desain penelitian merupakan strategi dalam mengatur penelitian agar peneliti memperoleh data yang valid sesuai dengan karakteristik variabel dan tujuan penelitian.[38] Istilah penelitian kualitatif menurut Kirk dan Miller (1986:9) pada mulanya bersumber pada pengamatan kualitatif yang dipertentangkan dengan pengamatan kualitatif. Pengamatan kualitatif melibatkan pengukuran tingkatan suatu ciri tertentu. Untuk menemukan sesuatu dalam pengamatan, pengamat harus mengetahui apa yang menjadi ciri sesuatu itu. Untuk itu pengamatan mulai mencatat atau menghitung dari satu, dua, tiga dan seterusnya.[39]

Dalam melakukan penelitian ini, jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriftif eksploratif. Penelitian deskriftif adalah suatu penelitian yang dilakukan dengan tujuan utama untuk membuat gambaran atau deskripsi tentang suatu keadaan secara objektif. Metode penelitian deskriftif digunakan untuk memecahkan atau menjawab permasalahan yang sedang dihadapi pada situasi sekarang. Penelitian ini dilakukan dengan menempuh langkah-langkah pengumpulan data, klasifikasi, membuat kesimpulan dan laporan.[40]

Dengan demikian penelitian deskriptif eksploratif merupakan penelitian yang bertujuan untuk menggambarkan suatu keadaan atau fenomena yang terjadi pada suatu tempat atau daerah untuk mengetahui hal-hal yang berhubungan dengan objek yang diteliti. Penelitian ini dilakukan secara langsung atau disebut juga penelitian lapangan, yang akan dilaksanakan di kawasan pantai Labuhan Lombok.

Sesuai dengan jenis penelitian yang digunakan, maka pendekatan yang digunakan adalah pendekatan empiris. Pendekatan empiris merupakan pendekatan dilakukan apabila objek yang diteliti sudah ada secara wajar di lapangan, di kelas atau di tempat tertentu. Akan tetapi jika dalam penelitian ini objek yang akan diteliti sengaja dirancang atau dibuat dan dimanipulasikan dulu baru dilakukan percobaan di lapangan, maka pendekatan yang digunakan adalah pendekatan eksperimen.

  1. B.      Waktu dan Tempat  Penelitian
    1. Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan selama dua minggu yang dimulai pada tanggal13 s/d 26 Oktober 2012.

  1. Tempat Penelitian

Penelitian dilakukan dikawasan pesisir pantai Labuhan Lombok, tepatnya di Lombok timur. Pengamatan, indentifikasi dan klasifikasi dilakukan secara morfologi.

 

 

  1. C.      Populasi dan Sampling
    1. Populasi

Populasi adalah kumpulan individu suatu spesies yang mempunyai potensi untuk berbiak antara individu dengan individu. Jadi populasi dipandang sebagai suatu sistim yang dinamis yang selalu melakukan hubungan. Jika jumlah individu tiap satuan luas bertambah, dikatakan populasi naik. Terjadilah persaingan (kompetisi) prihal bahan makanan, tempat tinggal, dan kebutuhan hidup lainnya.[41]

Populasi pada penelitian ini adalah semua terumbu karang yang terdapat di area pantai di Labuhan Lombok.

  1. Sampel

Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Bila populasi besar. Dan peneliti tidak mungkin mempelajari semua yang ada dalam populasi. Misalnya karena keterbatasan dana, tenaga dan waktu, maka peneliti dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi itu. Apa yang dipelajari dari sampel itu, kesimpulannya akan dapat diberlakukan untuk populasi. Untuk itu sampel yang diambil dari populasi harus betul-betul representative (mewakili). [42]

Sampel adalah bagian dari populasi yang diambil untuk diteliti. Untuk populasi yang tidak terhingga, pengambilan sampel mutlak harus dijalankan. Adapun kesimpulan yang diperoleh dari sampel yang diteliti diharapkan berlaku pula untuk populasinya. [43]

Ada banyak cara yang digunakan untuk mengambil sampel, tergantung pada karakteristik populasi, antara lain dengan menggunakan:  Metode long line dalam metode ini garis-garis merupakan petak contoh (plot). Tanaman yang berada tepat pada garis dicatat jenisnya dan beberapa kali terdapat atau dijumpai.[44]

Metode transek adalah jalur sempit melintang pada lahan yang akan dipelajari atau diselidiki. Jenis metode transek yang digunakan adalah line trensect (transek garis). Dalam metode ini garis-garis merupakan petak contoh (plot). Hewan yang berada tepat pada garis atau di dalam plot dicatat jenisnya dan berapa kali hewan jenis tersebut dijumpai.[45]

Metode kuadrat transek merupakan pengambilan sampel berbentuk segi empat atau berbebtuk rectangular yang dilakukan secara acak di dalam zona sensus. Zona sensus dapat dianggap sebagai papan pengecekan (cheker-board) dan kuadrat yang dicari dapat ditentukan dengan membuat penomoran secara acak.[46]

Sampel pada penelitian ini adalah salah satu dusun di daerah Labuhan Lombok dengan membuat lima transek, masing-masing transek mempunyai ukuran 100 m2. Diambil dengan cara: pada masing-masing transek diukur dengan cara pada zona intertidal diambil 100 m dan ketengah laut 100 m. Setelah itu mengambil sampel yang diinginkan yaitu terumbu karang yang ditemukan dengan mengidentifikasi jenis-jenisnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. D.      Instrumen Penelitian

Suatu penelitian akan terlaksana dengan baik dan sesuai dengan harapan sudah pasti membutuhkan berbagai peralatan dan bahan yang tepat guna menunjang keberhasilan dari penelitian tersebut. Segala sesuatu yang berkenaan dengan pernyataan diatas adalah termasuk dalam instrumen penelitian. Dimana instrumen penelitian merupakan Instrumen adalah alat bantu yang dipilih dan digunakan oleh peneliti dalam kegiatannya mengumpulkan data agar kegiatan tersebut menjadi sistematis dan dipermudah.[47]

Instrumen penelitian adalah alat atau fasilitas yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan datanya agar pekerjaannya lebih mudah dan dan hasilnya lebih baik, dalam arti lebih cermat, lengkap, dan sistematis sehingga lebih mudah diolah.[48]

Instrument sebagai alat pengumpulan data pada hakikatnaya adalah untuk mengukur variabel penelitian. Instrument sangat penting peranannya, karena instrument yang baik akan menghasilkan penelitian yang valid dan baik pula.

Adapun alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

  1. Kamera bawah air, digunakan untuk mendokumentasi semua terumbu karang yang ditemukan di dalam air.
  2. Snorcle, digunakan untuk menyelam. Tujuannya untuk melihat biota-biota laut yang ada disekitar terumbu karang, sekaligus untuk melihat terumbu karang itu sendiri.
  3. Meteran, digunakan untuk mengukur luas petak yang digunakan.
  4. Tali rapia, digunakan untuk memberikan batas daerah sampel tempat penelitian.
  5. Pasak, digunakan sebagai tempat mengikat tali rapia. Ini dilakukan agar daerah yang diteliti lebih jelas.
  6. Kaca pembesar, digunakan untuk melihat organ luar dari terumbu karang tersebut yang tidak bisa dilihat secara langsung oleh mata telanjang.
  7. Alat tulis, digunakan untuk mencatat data dari semua hasil penelitian.
  8. E.      Variabel Penelitian

Variabel pada penelitian ini adalah jenis-jenis terumbu karang yang masih hidup di kawasan pantai Labuhan Lombok. (Lombok timur).

  1. F.       Pelaksanaan Penelitian
    1. Tahap Persiapan.
      1. Menentukan lokasi pengambilan sampel di kawasan pantai Labuhan Lombok menjadi 5 stasiun.
      2. Mengukur lokasi dan membuat petak.
      3. Menentukan stasiun yang dijadikan sebagai sampel.
      4. Tahap Pelaksanaan.
        1. Menyelam ke dalam air dengan menggunakan snorkeling.
        2. Mencari terumbu karang yang masih hidup.
        3. Mengamati terumbu karang.
        4. Mencatat morfologi terumbu karang.
        5. Mendokumentasi (foto) terumbu karang yang masih hidup.
      5. Tahap Identifikasi

Indentifikasi merupakan pengumpulan data tentang contoh organisme yang diamati atau diteliti juga penelaahan mengenai organisme tersebut. Organisme yang memiliki ciri yang sama dimasukkan dalam kelompok yang sama.

Tahap identifikasi pada terumbu karang adalah:

  1. Mengamati bentuk tubuh.
  2. Mengamati warna tubuh.
  3. G.     Teknik Pengumpulan Data
    1. Observasi

Observasi adalah melakukan pengamatan langsung ke objek penelitian untuk melihat dari dekat kegiatan yang dilakukan.[49] Observasi merupakan suatu proses yang kompleks, suatu proses yang tersusun dari pelbagai proses biologis dan psikhologis. Dua diantara yang terpenting adalah proses-proses pengamatan dan ingatan. Teknik pengumpulan data dengan observasi digunakan bila, peneliti berkenan dengan perilaku manusia, proses kerja, gejala-gejala alam dan bila responden yang diamati tidak terlalu besar. Kalau dalam observasi partisipan peneliti terlibat langsung dengan aktivitas orang-orang yang sedang diamati, maka dalam observasi nonpartisipan peneliti tidak terlibat dan sebagai pengamat independen.[50]

Dalam melakukan obsevasi atau pengamatan secara langsung di lapangan, peneliti menggunakan beberapa teknik yaitu identifikasi dan klasifikasi terhadap data yang diperoleh.

Metode transek adalah jalur sempit melintang pada lahan yang akan dipelajari atau diselidiki. Jenis metode transek yang digunakan adalah line trensect (transek garis). Dalam metode ini garis-garis merupakan petak contoh (plot). Hewan yang berada tepat pada garis atau di dalam plot dicatat jenisnya dan berapa kali hewan jenis tersebut dijumpai.[51]

Kuadarat transek merupakan unit pengambilan sampel berbentuk segi empat atau berbentuk rectangular yang dilakukan secara acak di dalam zona sensus. Zona sensus dapat dianggap sebagai papan pengecekan (cheker-board) dan kuadrat yang dicari dapat ditentukan dengan membuat penomoran secara acak.[52]

  1. Dokumentasi

Arikunto menjelaskan dokumentasi berasal dari kata dokumen, yang artinya bareng-bareng tertulis. Di dalam melaksanakan metode dokumentasi, peneliti menyelidiki benda-benda tertulis seperti buku-buku, majalah, dokumen, peraturan-peraturan, notulen rapat, catatan harian, dan sebagainya.

Metode dokumentasi dapat dilaksanakan dengan:

  1. Pedoman dokumentasi yang memuat garis-garis besar atau katagori yang akan dicari datanya.
  2. Check-list, yaitu daftar variabel yang akan dikumpulkan datanya. Dalam hal ini peneliti tinggal mememberikan tanda atau tally setiap pemunculan gejala yang dimaksud. [53]

Teknik dokumentasi ini digunakan untuk melengkapi data-data penelitian, sehingga hasilnya akan menjadi lebih valid. Adapun penggunaan teknik dokumentasi dalam penelitian ini yaitu dengan mengambil gambar (foto) pada jenis-jenis terumbu karang yang ditemukan di tempat penelitian.

  1. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang digunakan adalah dengan cara mencocok hasil yang didapatkan dalam pengamatan pada lapangan. Bagian-bagian morfologi yang tanmpak pada foto dokumentasi dicocokkan dengan kunci determinasi yang ada pada jenis-jenis terumbu karang. Kunci determinasi ini dapat dilihat dari petunjuk mengenai jenis-jenis terumbu karang berdasarkan bentuk dan warna tubuh terumbu karang.[54] Selain itu, data untuk mendukung kunci determinasi dari morfologi terumbu karang yang ditemukan dapat dibantu dengan melihat ukuran tubuhnnya yang dalam hal ini berkenaan dengan system refroduksi dari terumbu karang itu sendiri.[55]

Teknik data yang digunakan pada analisis data disini adalah dengan menggunakan hasil yang ditemukan yang di lapangan dengan teori-teori yang ada dibuku. Misalnya pada bentuk dan warna pada terumbu karang tersebut. Selain itu bisa dicocokan yang berkenaan dengan refroduksi pada terumbu karang dengan menggunakan kunci determinasi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

  1. A.       Deskripsi Lokasi Penelitian

Kawasan Pesisir dermaga penyeberangan Labuhan Lombok Kabupaten Lombok Timur merupakan pantai yang terletak dibagian timur pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat Indonesia. Secara geografis kawasan pantai Labuhan Lombok terletak pada: 11546’ BT-1160 28’ BT dan 80 12’ LS- 80 55’LS. Keadaan iklim di kawasan ini tidak jauh berbeda dengan iklim di kecamatan yang lain dan sekitarnya yang mempunyai dua musim yaitu, kemarau dan hujan, oleh dua kali perubahan arah angin. Pada bulan April dan Oktober bertiup angin kering dari tenggara mengakibatkan musim kemarau dan hujan pada bulan November sampai Marat. Bertiup angin yang mengandung uap air dari barat laut menyebabkan musim hujan, kecepatan angin pada musim ini cukup kencang, sementara pada musim kemarau kecepatan angin rendah.

Curah hujan tertinggi terjadi pada bulan Desember, Januari dan Maret sedangkan curah hujan terendah terjadi pada bulan Juni, Juli dan Agustus. Keadaan suhu tahunan rata-rata 2700-330C, Kelembaban 77-82% dan itensitas cahaya matahari setiap harinya 62-90%.

  1. B.        Hasil Penelitian

Bedasarkan hasil penelitin yang dilakukan di kawasan pesisir dermaga penyeberangan  Labuhan Lombok diperoleh macam-macam jenis terumbu karang dengan spesies yang beragam, baik pada setiap stasiun maupun pada keseluruhan lokasi.

Stasiun I.

  1. a.         Kondisi Fisik dan Habitat

Kondisi fisik dan habitat pencemaran akan menyebabkan organisme akan mati atau akan mengalami adaftasi untuk mempertahankan hidup, tetapi tidak semua spesies terumbu karang mampu bertahan hidup.

Pesisir pantai merupakan tempat beradanya suatu ekosistem terumbu karang  yang memiliki fungsi sebagai habitat ribuan biota, pemijahan, pengasuhan pembesaran dan tempat pencari makanan dari kebanyakan biota laut. Di samping itu ekosistem terumbu karang merupakan bagian dari ekosistem laut, juga sebagai bagian penting dari laut untuk keseimbangan ekosistem.

Aktivitas kapal laut umumnya menggunakan bahan bakar dan terjadi pembuangan sisa bahan bakar ke laut seperti asap hasil pembakaran, oli, minyak kapal maupun sisa-sisa pembakaran yang lainnya. Dari semua pembuangan sisa-sisa bahan bakar tentunya sangat mempengaruhi terhadap pertumbuhan ekosistem terumbu karang. Di kawasan penyebrangan pulau Lombok ke pulau Sumbawa, tampak terlihat adanya oli yang mengapung di permukaan air laut. Minyak dan oli ini berasal dari alat transportasi laut seperti kapal feri, perahu yang digunakan nelayan untuk menangkap ikan. Oleh sebab itu pembuangan tersebut sangat mempengaruhi komunitas hewan dan tumbuhan di ekosistem pantai seperti pada komunitas terumbu karang.

Keadaan arus air di stasiun I ini tenang dan tidak ada ombak karena stasiun I ini diambil di sekitar dermaga penyeberangan Labuhan Lombok. Keadaan inilah yang menyebabkan banyak jenis terumbu karang yang banyak bertahan hidup di tempat ini, hanya saja terganggu pertumbuhan dan perkembangan disebabkan oleh aktivitas manusia yaitu, pembuangan limbah kapal dan penambangan liar yang dilakukan masyarakat setempat.

Tabel 4.1 Hasil Pengamatan Ciri Fisik, Kimia, Air dan Habitat

Ciri-Ciri Fisik

pH

Salinitas

Habitat

  1. Berpasir
  2. Terdapat beberapa jenis tumbuhan seperti rumput laut dan alga
  3. Berkerikil
  4. Berbatu
    1. pH Tanah: 5,4
    2. Suhu air Laut: 290C
    3. Suhu udara: 320C
    4. pH air laut: 5
 

4 0/00

  1. Airnya jernih
  2. Tidak terdapat minyak
  3. 400 meter ke sebelah utara dari dermaga penyeberangan Labuhan Lombok

 

 

Tabel 4.2 Spesies-Spesies Terumbu Karang yang Ditemukan

 

NO

Suku/Family

Marga/Genus

Jenis/Spesies

Stasiun ke- I

1

Acroporidae

Acropora

Acropora mikropthalma

7

2

Astrocoeniidae

Madracis

Madracis carmabi

5

3

Astrocoeniidae

Madracis

Madracis mirambilis

4

4

Dendrophyliidae

Laptopsamia

Laptopsamia trinitatis

4

5

Hydrozoan

Millepora

Millepora striata

1

6

Meandrinidae

Eusmilia

Eusmilia fastigiata

2

7

Mussidae

Musa

Musa angulosa

4

 

 

 

 

  1. b.      Spesies Terumbu Karang.

1)               Acropora mikropthalma

 

Ciri-ciri morfologi: bercabang-cabang, seperti ranting pada pohon dan warna merah muda, banyak terdapat tumbuhan disekitarnya. sedangkan keberadaan terumbu karang ini di sekitar tanah yang berlumpur dan banyak terdapat minyak kapal akibat dari sisa-sisa pembakaran sehingga pertumbuhan dan perkembangannya terganggu.

2)               Madracis carmabi

 

 

Ciri-ciri morfologi: menjari banyak, berkoloni, bercabang dan warnanya kuning dan keberadaan terumbu karang ini terdapat di tempat yang berpasir dan berkerikil dan tidak terdapat limbah-limbah dari hasil pembuangan kapal sehingga pertumbuhan dan perkembangbiakan terumbu karang sangat baik.

 

3)               Madracis carmabi

 

 

Ciri-ciri morfologi: cabangnya hanya sedikit, cabangnya berbentuk oval atau bulat, warnanya kuning kehijauan dan keberadaan terumbu karang ini terdapat di tempat yang banyak mengandung batu-batuan atau berkerikil sehingga dan tidak terdapat limbah-limbah sehingga pertumbuhan dan perkembangan terumbu karang ini sangat baik.

4)               Laptopsamia trinitaris

 

 

Ciri-ciri morfologi: berlubang-lubang, halus dan panjang, berkoloni banyak dan warnanya oranye. Sedangkan keberadaan terumbu karang ini terdapat di tempat yang berlumpur dan banyak terdapat banyak minyak kapal akibat dari sisa-sisa pembakaran, ini dapat menyebabkan perkembangan dan pertumbuhan terumbu karang ini terganggu.

 

5)               Eusmilia fastigiata

 

 

Ciri-ciri morfologi: berlubang, bulat atau oval, warnanya merah muda dan hijau. Sedangkan keberadaan terumbu karang ini terdapt di tempat yang berpasir dan tidak ada terdapat tumbuhan di sekitarnya namun sedikit terdapat tumpahan sisa-sisa pembuangan minyak kapal hasil pembakaran.

6)               Musa angulosa

 

 

Ciri-ciri morfologi: bergumpal, polipnya berdaging dan warnanya abu-abu. Sedangkan keberadaan terumbu karang ini di tempat yang berlumpur dan sedikirnya terdapat minyak-minyak kapal akibat dari pembuangan sisa-sisa pembakaran dan menyebabkan terumbu karang ini terganggu pertumbuhan dan perkembangannya.

 

 

7)               Mellipora striata

 

 

Ciri-ciri morfologi: menjari, berkoloni, tumbuh ke atas, bercabang dan keberadaan terumbu karang ini di tempat yang berlumpur dan inilah yang menyebabkan terganggunya pertumbuhan dan perkembangannya.

Pada stasiun I jumlah terumbu karang yang didapatkan sebanyak 7 family, dengan jumlah masing-masing family memiliki satu jenis spesies. Oleh karena itu jumlah spesies yang didapatkan pada stasiun ini sebanyak 7 spesies. Jumlah individu masing-masing spesies pada stasiun ini beragam dimana, jumlah individu yang paling banyak ditemukan yaitu dari spesies Acropora micropthalma. Sedangkan yang paling sedikit ditemukan yaitu pada spesies Mellipora striata. Dengan kondisi lingkungan berupa pH tanah 5,4, suhu air laut 290C, suhu udara 320C, pH air laut 5.

 Kondisi lingkungan pada stasiun ini sedikit asam yakni pH 5-4 keadaan ini disebabkan karena keberadaan dari stasiun yang dekat dengan dermaga sekitar 400 meter. Alasan peneliti mengambil lokasi ini karena peneliti tidak diberikan izin meneliti di tempat lalulintas kapal, namun meski jarak yang kita ambil antara stasiun dengan dermaga tidak tepat dengan lintasan kapal, efek buangan limbah dari kapal telah berdampak pada pertumbuhan dan perkembangan terumbu karang ini dibuktikan dengan jumlah spesies yang didapatkan yakni 7 spesies dan hampir seluruh stasiun yang didapatkan sama. Adapun hubungan dengan jumlah individu dari spesies yang paling banyak adalah Acropora micropthalma  ini disebabkan karena jenis dari terumbu karang ini sangat tahan terhadap lingkungan yang ekstrim seperti kandungan keasaman pada laut tersebut sedangkan spesies dari Mellipora striata berbeda dengan Acropora micropthalma  pada sekitar stasiun ini pH 5,4 sangat tidak cocok untuk perkembangannya.

Stasiun II

  1. a.         Kondisi Fisik dan Habitat

Kondisi fisik dan habitat pencemaran akan menyebabkan organisme akan mati atau akan mengalami adaftasi untuk mempertahankan hidup, tetapi tidak semua spesies terumbu karang mampu bertahan hidup.

Pesisir pantai merupakan tempat beradanya suatu ekosistem terumbu karang  yang memiliki fungsi sebagai habitat ribuan biota, pemijahan, pengasuhan pembesaran dan tempat pencari makanan dari kebanyakan biota laut. Di samping itu ekosistem terumbu karang merupakan bagian dari ekosistem laut, juga sebagai bagian penting dari laut untuk keseimbangan ekosistem.

Aktivitas kapal laut umumnya menggunakan bahan bakar dan terjadi pembuangan sisa bahan bakar ke laut seperti asap hasil pembakaran, oli, minyak kapal maupun sisa-sisa pembakaran yang lainnya. Dari semua pembuangan sisa-sisa bahan bakar tentunya sangat mempengaruhi terhadap pertumbuhan ekosisterm terumbu karang. Di kawasan penyebrangan pulau Lombok ke pulau Sumbawa, tampak terlihat adanya oli yang mengapung di permukaan air laut. Minyak dan oli ini berasal dari alat transportasi laut seperti kapal feri, perahu yang digunakan nelayan untuk menangkap ikan. Oleh sebab itu pembuangan tersebut sangat mempengaruhi komunitas hewan dan tumbuhan di ekosistem pantai seperti pada komunitas terumbu karang.

Keadaan arus air di stasiun II ini tenang dan tidak ada ombak karena stasiun II ini diambil di sekitar darmaga penyeberangan Labuhan Lombok. Keadaan inilah yang menyebabkan banyak jenis terumbu karang yang banyak bertahan hidup di tempat ini, hanya saja terganggu pertumbuhan dan perkembangan disebabkan oleh aktivitas manusia yaitu, pembuangan limbah kapal dan penambangan liar yang dilakukan masyarakat setempat.

Tabel 4.3 Hasil Pengamatan Ciri Fisik, Kimia, Air dan Habitat.

Ciri-Ciri Fisik

pH

Salinitas

Habitat

  1. Berpasir
  2. Terdapat rumput laut
  3. Berkerikil
  4. Berbatu
  5. Berlumpur
  6. pH Tanah: 4,1
  7. Suhu air Laut: 290C
  8. Suhu udara: 270C
  9. pH air laut: 5
 

4 0/00

  1. Airnya jernih
  2. Tidak terdapat minyak
  3. 400 meter ke sebelah kiri atau sebelah selatan  dermaga penyeberangan Labuhan Lombok

 

 

 

 

Tabel 4.4 Spesies-Spesies Terumbu Karang yang Ditemukan

 

NO

Suku/Family

Marga/Genus

Jenis/Spesies

Stasiun ke- II

1

Acroporidae

Acropora

Acropora mikropthalma

2

2

Astrocoeniidae

Madracis

Madracis carmabi

4

3

Astrocoeniidae

Madracis

Madracis mirambilis

7

4

Dendrophyliidae

Laptopsamia

Laptopsamia trinitatis

3

5

Hydrozoan

Millepora

Millepora striata

3

6

Meandrinidae

Eusmilia

Eusmilia fastigiata

9

7

Mussidae

Musa

Musa angulosa

2

 

  1. b.         Spesies Terumbu Karang

1)               Acropora mikropthalma

 

Ciri-ciri morfologi: bercabang-cabang, seperti ranting pada pohon dan warna merah muda, banyak terdapat tumbuhan disekitarnya. sedangkan keberadaan terumbu karang ini di sekitar tanah yang berlumpur dan banyak terdapat minyak kapal akibat dari sisa-sisa pembakaran sehingga sangat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan pada terumbu karang tersebut.

 

 

 

2)               Madracis carmabi

 

Ciri-ciri morfologi: menjari banyak, berkoloni, bercabang dan warnanya kuning dan keberadaan terumbu karang ini terdapat di tempat yang berpasir dan berkerikil dan tidak ada terdapat limbah sehingga pertumbuhan dan perkembangannya tidak terganggu.

3)               Madracis carmabi

 

Ciri-ciri morfologi: cabangnya hanya sedikit, cabangnya berbentuk oval atau bulat, warnanya kuning kehijauan dan keberadaan terumbu karang ini terdapat di tempat yang banyak mengandung batu-batuan dan tidak terdapat minyak sehingga pertumbuhan dan perkembanga terumbu karang ini tidak terganggu.

 

 

 

 

4)               Laptopsamia trinitaris

 

Ciri-ciri morfologi: berlubang-lubang, halus dan panjang, berkoloni banyak dan warnanya oranye. Sedangkan keberadaan terumbu karang ini terdapat di tempat yang berlumpur dan banyak terdapat banyak monyak kapal akibat dari sisa-sisa pembakaran.

5)               Eusmilia fastigiata

 

Ciri-ciri morfologi: berlubang, bulat atau oval, warnanya merah muda dan hijau. Sedangkan keberadaan terumbu karang ini terdapat di tempat yang berpasir dan banyak terdapat minyak kapal akibat dari sisa-sisa pembakaran sehingga pertumbuhan dan perkembangan terumbu karang ini terganggu.

 

 

 

 

6)               Musa angulosa

 

Ciri-ciri morfologi: bergumpal, polipnya berdaging dan warnanya abu-abu. Sedangkan keberadaan terumbu karang ini di tempat yang berlumpur dan tidak terdapat minyak-minyak kapal akibat dari pembuangan sisa-sisa pembakaran sehingga pertumbuhan dan perkembangan terumbu karang ini sangat baik.

7)               Mellipora striata

 

Ciri-ciri morfologi: berjari, bercabang-cabang, tumbuh ke atas, bentuknya seperti daun pada tumbuhan dan warnanya kekuningan, sedangkan keberadaan terumbu karang ini berada pada tempat yang berlumpur sehingga pertumbuhan dan perkembangannya terganggu.

Pada stasiun II jumlah terumbu karang yang didapatkan sebanyak 7 family, dengan jumlah masing-masing family memiliki satu jenis spesies. Oleh karena itu jumlah spesies yang didapatkan pada stasiun ini sebanyak 7 spesies. Jumlah individu masing-masing spesies pada stasiun ini beragam dimana, jumlah individu yang paling banyak ditemukan yaitu dari spesies Eusmilia fastigiata.Sedangkan individu yang paling sedikit ditemukan yaitu dari spesies Acropora mikropthalma dan Musa angulosa.dengan kondisi lingkungan berupa pH tanah 4,1, suhu air laut 290C, suhu udara 270C dan pH air laut 5, Adapun spesies yang paling banyak yaitu dari family Meandrinidae.

Keadaan pH pada stasiun ini disebabkan karena jarak antara stasiun dengan darmaga lebih dekat dengan stasiun I yakni 400 meter sebelah kiri atau sebelah selatan darmaga penyeberangan dari darat ke atas kapal disekitar daerah ini banyak kapal-kapal yang parkir hususnya kapal-kapal yang tidak bisa berlabuh karena sedang mengalami perbaikan. Pada bagian ini ditemukan banyak lumpur keadaan kecilnya arus air laut sehingga pasir mengendap bercampur dengan tanah keadaan inilah yang menyebabkan spesies Eusmilia fastigiata lebih banyak ditemukan karena spesies ini lebih suka pada tempat yang berlumpur.

Stasiun III.

  1. a.      Kondisi Fisik dan Habitat

Kondisi fisik dan habitat pencemaran akan menyebabkan organisme akan mati atau akan mengalami adaftasi untuk mempertahankan hidup, tetapi tidak semua spesies terumbu karang mampu bertahan hidup.

Pesisir pantai merupakan tempat beradanya suatu ekosistem terumbu karang  yang memiliki fungsi sebagai habitat ribuan biota, pemijahan, pengasuhan pembesaran dan tempat pencari makanan dari kebanyakan biota laut. Di samping itu ekosistem terumbu karang merupakan bagian dari ekosistem laut, juga sebagai bagian penting dari laut untuk keseimbangan ekosistem.

Aktivitas kapal laut umumnya menggunakan bahan bakar dan terjadi pembuangan sisa bahan bakar ke laut seperti asap hasil pembakaran, oli, minyak kapal maupun sisa-sisa pembakaran yang lainnya. Dari semua pembuangan sisa-sisa bahan bakar tentunya sangat mempengaruhi terhadap pertumbuhan ekosisterm terumbu karang. Di kawasan penyeberangan pulau Lombok ke pulau Sumbawa, tampak terlihat adanya oli yang mengapung di permukaan air laut. Minyak dan oli ini berasal dari alat transportasi laut seperti kapal feri, perahu yang digunakan nelayan untuk menangkap ikan. Oleh sebab itu pembuangan tersebut sangat mempengaruhi komunitas hewan dan tumbuhan di ekosistem pantai seperti pada komunitas terumbu karang.

Keadaan arus air di stasiun III ini tenang dan tidak ada ombak karena stasiun III ini diambil di sekitar darmaga penyeberangan Labuhan Lombok. Keadaan inilah yang menyebabkan banyak jenis terumbu karang yang banyak bertahan hidup di tempat ini, hanya saja terganggu pertumbuhan dan perkembangan disebabkan oleh aktivitas manusia yaitu, pembuangan limbah kapal dan penambangan liar yang dilakukan masyarakat setempat.

Tabel 4.5  Hasil Pengamatan Ciri Fisik, Kimia, Air dan Habitat

Ciri-Ciri Fisik

pH

Salinitas

Habitat

  1. Berpasir
  2. Terdapat beberapa jenis tumbuhan seperti rumput laut dan alga
  3. Berkerikil
  4. Berbatu
  5. pH Tanah: 4,2
  6. Suhu air  Laut: 280C
  7. Suhu udara: 260C
  8. pH air laut: 4
 

4 0/00

  1. Airnya jernih
  2. Terdapat limbah hasil pembuangan kapal
  3. 600 meter ke sebelah kiri atu ke sebelah utara dermaga penyeberangan Labuhan Lombok

 

 

Tabel 4.6 Spesies-Spesies Terumbu Karang yang Ditemukan

 

NO

Suku/Family

Marga/Genus

Jenis/Spesies

Stasiun ke- III

1

Acroporidae

Acropora

Acropora mikropthalma

4

2

Astrocoeniidae

Madracis

Madracis carmabi

5

3

Astrocoeniidae

Madracis

Madracis mirambilis

2

4

Dendrophyliidae

Laptopsamia

Laptopsamia trinitatis

5

Hydrozoan

Millepora

Millepora striata

2

6

Meandrinidae

Eusmilia

Eusmilia fastigiata

7

7

Mussidae

Musa

Musa angulosa

5

 

  1. b.      Spesies Terumbu Karang

1)               Acropora mikropthalma

 

 

Ciri-ciri morfologi: bercabang-cabang, seperti ranting pada pohon dan warna merah muda, banyak terdapat tumbuhan disekitarnya. sedangkan keberadaan terumbu karang ini di sekitar tanah yang berlumpur dan banyak terdapat minyak kapal akibat dari sisa-sisa pembakaran sehingga sangat mengganggu keberadaan terumbu karang tersebut.

2)               Madracis carmabi

 

Ciri-ciri morfologi: menjari banyak, berkoloni, bercabang dan warnanya kuning dan keberadaan terumbu karang ini terdapat di tempat yang berpasir dan berkerikil sehingga terumbu karang ini sangat jelas kelihatannya

3)               Madracis carmabi

 

Ciri-ciri morfologi: cabangnya hanya sedikit, cabangnya berbentuk oval atau bulat, warnanya kuning kehijauan dan keberadaan terumbu karang ini terdapat di tempat yang banyak mengandung batu-batuan atau kerikil dan tidak ada terdapat limbah-limbah pembuangan kapal, sehingga pertumbuhan dan perkembangan terumbu karang sangat baik.

4)               Eusmilia fastigiata

 

Ciri-ciri morfologi: berlubang, bulat atau oval, warnanya merah muda dan hijau. Sedangkan keberadaan terumbu karang ini terdapt di tempat yang berpasir dan tidak ada terdapat tumbuhan di sekitarnya namun banyak terdapat limbah-limbah pembuangan sisa-sisa pembakaran dari alat transportasi laut seperti, kapal, perahu yang digunakan nelayan untuk menangkap ikan.

5)               Musa angulosa

 

Ciri-ciri morfologi: bergumpal, polipnya berdaging dan warnanya abu-abu. Sedangkan keberadaan terumbu karang ini di tempat yang berlumpur dan sedikir terdapat minyak-minyak kapal akibat dari pembuangan sisa-sisa pembakaran sehingga pertumbuhan dan perkembangan terumbu karang ini terganggu.

6)               Mellipora striata

 

Ciri-ciri morfologi: berjari, bercabang-cabang, tumbuh ke atas, bentuknya seperti daun pada tumbuhan dan warnanya kekuningan, sedangkan keberadaan terumbu karang ini berada pada tempat yang berlumpur sehingga pertumbuhan dan perkembangannya terganggu.

Pada stasiun III jumlah terumbu karang yang didapatkan sebanyak 6 family, dengan jumlah masing-masing family memiliki satu jenis spesies. Oleh karena itu jumlah spesies yang didapatkan pada stasiun ini sebanyak 6 spesies. Jumlah individu masing-masing spesies pada stasiun ini beragam dimana, jumlah individu yang paling banyak ditemukan yaitu dari spesies Eusmilia fastigiata. Sedangkan jumlah individu yang paling sedikit ditemukan yaitu dari spesies Madracis mirambilis dan Millepora striata sedangkan pada spesies Laptopsamia trinitatis ini tidak ditemukan sama sekali. Dengan kondisi lingkungan berupa pH tanah 4,2 suhu air laut 280C, suhu udara 260C dan pH air laut 4.

Jika antara darmaga dengan stasiun III sekitar 600 meter kondisi stasiun ini tidak berbeda jauh dengan stasiun I dan II  ini terlihat dari kadar pH yang ada yakni 4,2 disekitar stasiun ini ditemukan limbah hasil pembuangan kapal berupa oli dan sisa-sisa pembakarannya inilah yang menyebabkan kadar pHnya asam namun kondisi dari air laut masih terlihat jernih keadaan nya adanya sistem penetralan zat limbah dari pengusaha darmaga atau pemerintah meski begitu jenis laptopsamia trinitatis tidak ditemukan karena jenis ini tidak tahan dengan pH yang tinggi.

Stasiun IV.

  1. a.      Kondisi Fisik dan Habitat

Kondisi fisik dan habitat pencemaran akan menyebabkan organisme akan mati atau akan mengalami adaftasi untuk mempertahankan hidup, tetapi tidak semua spesies terumbu karang mampu bertahan hidup.

Pesisir pantai merupakan tempat beradanya suatu ekosistem terumbu karang  yang memiliki fungsi sebagai habitat ribuan biota, pemijahan, pengasuhan pembesaran dan tempat pencari makanan dari kebanyakan biota laut. Di samping itu ekosistem terumbu karang merupakan bagian dari ekosistem laut, juga sebagai bagian penting dari laut untuk keseimbangan ekosistem.

Aktivitas kapal laut umumnya menggunakan bahan bakar dan terjadi pembuangan sisa bahan bakar ke laut seperti asap hasil pembakaran, oli, minyak kapal maupun sisa-sisa pembakaran yang lainnya. Dari semua pembuangan sisa-sisa bahan bakar tentunya sangat mempengaruhi terhadap pertumbuhan ekosisterm terumbu karang. Di kawasan penyeberangan pulau Lombok ke pulau Sumbawa, tampak terlihat adanya oli yang mengapung di permukaan air laut. Minyak dan oli ini berasal dari alat transportasi laut seperti kapal feri, perahu yang digunakan nelayan untuk menangkap ikan. Oleh sebab itu pembuangan tersebut sangat mempengaruhi komunitas hewan dan tumbuhan di ekosistem pantai seperti pada komunitas terumbu karang.

Keadaan arus air di stasiun IV ini tenang dan  berombak karena stasiun IV ini diambil di sekitar dermaga penyeberangan Labuhan Lombok. Keadaan inilah yang menyebabkan banyak jenis terumbu karang yang banyak bertahan hidup di tempat ini, hanya saja terganggu pertumbuhan dan perkembangan disebabkan oleh aktivitas manusia yaitu, pembuangan limbah kapal dan penambangan liar yang dilakukan masyarakat setempat.

Tabel 4.7 Hasil Pengamatan Kondisi Fisik, Kimia, Air dan Habitat

Ciri-ciri fisik

pH

Salinitas

Habitat

  1. Berpasir
  2. Terdapat beberapa jenis tumbuhan seperti rumput laut dan alga
  3. Berkerikil
  4. Berbatu
    1. pH Tanah: 5,1
    2. Suhu air Laut: 260C
    3. Suhu udara: 270C
    4. pH air laut: 5
 

4 0/00

  1. Airnya jernih
  2. Tidak terdapat minyak
  3. 700 meter ke sebelah kiri atau sebelah utara darmaga penyeberangan Labuhan Lombok

 

 

 

 

 

Tabel 4.8 Spesies Terumbu Karang yang Ditemukan

 

NO

Suku/Family

Marga/Genus

Jenis/Spesies

Stasiun ke- IV

1

Acroporidae

Acropora

Acropora mikropthalma

2

Astrocoeniidae

Madracis

Madracis carmabi

3

3

Astrocoeniidae

Madracis

Madracis mirambilis

4

4

Dendrophyliidae

Laptopsamia

Laptopsamia trinitatis

5

5

Hydrozoan

Millepora

Millepora striata

3

6

Meandrinidae

Eusmilia

Eusmilia fastigiata

6

7

Mussidae

Musa

Musa angulosa

4

 

  1. b.      Spesiess terumbu karang

 

1)               Madracis mirambilis

 

 

Ciri-ciri morfologi: menjari banyak, berkoloni, bercabang dan warnanya kuning dan keberadaan terumbu karang ini terdapat di tempat yang berpasir dan berkerikil tidak ada terdapat minyak sisa-sisa pembakaran sehingga pertumbuhan dan perkembangan terumbu karang ini tidak terganggu.

 

 

 

 

 

2)               Madracis carmabi

 

 

Ciri-ciri morfologi: cabangnya hanya sedikit, cabangnya berbentuk oval atau bulat, warnanya kuning kehijauan dan keberadaan terumbu karang ini terdapat di tempat yang banyak mengandung batu-batuan atau kerikil dan tidak ada terdapat limbah-limbah dari hasil pembakaran.

3)               Laptopsamia trinitaris

 

 

Ciri-ciri morfologi: berlubang-lubang, halus dan panjang, berkoloni banyak dan warnanya oranye. Sedangkan keberadaan terumbu karang ini terdapat di tempat yang berlumpur dan banyak terdapat banyak minyak kapal akibat dari sisa-sisa pembakaran sehingga pertumbuhan dan perkembangan terumbu karang ini terganggu.

 

 

 

4)               Eusmilia fastigiata

 

 

Ciri-ciri morfologi: berlubang, bulat atau oval, warnanya merah muda dan hijau. Sedangkan keberadaan terumbu karang ini terdapt di tempat yang berpasir dan tidak ada terdapat tumbuhan di sekitarnya namun terdapat banyak limbah-limbah yaitu, sisa-sisa dari pembakaran kapal yang sangat mengganggu pertumbuhan dan perkembanagan pada terumbu karang tersebut.

5)               Musa angulosa

 

 

Ciri-ciri morfologi: bergumpal, polipnya berdaging dan warnanya abu-abu. Sedangkan keberadaan terumbu karang ini di tempat yang berlumpur dan sedikit terdapat minyak-minyak kapal akibat dari pembuangan sisa-sisa pembakaran yang sangat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan terumbu karang tersebut.

 

6)               Mellipora striata

 

 

Ciri-ciri morfologi: bercabang, menjari, berkoloni dan warnanya kekuningan, sedangkan keberadaan terumbu karang ini pada tempat yang berpasir dan berkerikil dan tidak terdapat limbah-limbah sehingga pertumbuhan dan perkembangan terumbu karang ini sangat baik.

Pada stasiun IV jumlah terumbu karang yang didapatkan sebanyak 6 family, dengan jumlah masing-masing family memiliki satu jenis spesies. Oleh karena itu jumlah spesies yang didapatkan pada stasiun ini sebanyak 6 spesies. Jumlah individu masing-masing spesies pada stasiun ini beragam dimana, jumlah individu yang paling banyak ditemukan yaitu dari spesies Eusmilia fastigiata.Sedangkan jumlah individu yang paling sedikit yang ditemukan yaitu dari spesies Madracis carmabi dan millepora striata, sedangkan dari spesies Acropora micropthalma tidak ditemukan sama sekali. Dengan kondisi lingkungan berupa  pH tanah 5,1, suhu air laut 260C, suhu udara 270C dan pH air laut 5.

Stasiun ini lebih jauh berada dari stasiun I,II dan III yakni sekitar 700 meter hal ini menyebabkan keadaan pH lebih tinggi dari stasiun I,II dan III yakni 5,1 pada daerah ini banyak terdapat terumbu karang dan ketika bulan purnama biasanya daerah ini mengalami surut sampai sekitar 700 meter ke tengah laut sehingga pada tempat ini jarang ditemukan kapal yang bersandar atau parkir hanya saja limbah buangan kapal sedikit mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangbiakan terumbu karang ini dilihat dari spesies yang ditemukan yaitu banyaknya jenis Madracis carmabi yang ditemukan ini menunjukkan stasiun ini ada indikator pencemaran selain itu yang paling menunjukkan stasiun ini tidak baik untuk terumbu karang adalah tidak ditemukan Acropora micropthalma padahal spesies jenis ini banyak yang ditemukan setiap pantai namun ada satu penyebab lagi keadaan ini bisa terjadi yaitu keadaan penambang liar yang bisa muncul ketika cuaca bulan purnama, banyak dari penambang liar yang mengambil terumbu karang yang digunakan sebagai bahan pembuatan kapur salah satunya yaitu daru jenis Acropora micropthalma.

Stasiun V.

  1. a.      Kondisi Fisik dan Habitat

Kondisi fisik dan habitat pencemaran akan menyebabkan organisme akan mati atau akan mengalami adaftasi untuk mempertahankan hidup, tetapi tidak semua spesies terumbu karang mampu bertahan hidup.

Pesisir pantai merupakan tempat beradanya suatu ekosistem terumbu karang  yang memiliki fungsi sebagai habitat ribuan biota, pemijahan, pengasuhan pembesaran dan tempat pencari makanan dari kebanyakan biota laut. Di samping itu ekosistem terumbu karang merupakan bagian dari ekosistem laut, juga sebagai bagian penting dari laut untuk keseimbangan ekosistem.

Aktivitas kapal laut umumnya menggunakan bahan bakar dan terjadi pembuangan sisa bahan bakar ke laut seperti asap hasil pembakaran, oli, minyak kapal maupun sisa-sisa pembakaran yang lainnya. Dari semua pembuangan sisa-sisa bahan bakar tentunya sangat mempengaruhi terhadap pertumbuhan ekosisterm terumbu karang. Di kawasan penyeberangan pulau Lombok ke pulau Sumbawa, tampak terlihat adanya oli yang mengapung di permukaan air laut. Minyak dan oli ini berasal dari alat transportasi laut seperti kapal feri, perahu yang digunakan nelayan untuk menangkap ikan. Oleh sebab itu pembuangan tersebut sangat mempengaruhi komunitas hewan dan tumbuhan di ekosistem pantai seperti pada komunitas terumbu karang.

Keadaan arus air di stasiun V ini tenang dan  berombak karena keberadaan stasiun ini paling jauh dengan dermaga penyeberangan Labuhan Lombok. Keadaan inilah yang menyebabkan banyak jenis terumbu karang yang banyak bertahan hidup di tempat ini, hanya saja terganggu pertumbuhan dan perkembangan disebabkan oleh aktivitas manusia yaitu, pembuangan limbah kapal dan penambangan liar yang dilakukan masyarakat setempat.

 

 

Tabel 4.9 Hasil Pengamatan Ciri Fisik, Kimia, Air dan Habitat

Ciri-ciri fisik

pH

Salinitas

Habitat

  1. Berpasir
  2. Terdapat beberapa jenis tumbuhan seperti rumput laut dan alga
  3. Berkerikil
  4. Berbatu
  5. pH Tanah: 5,3
  6. Suhu air Laut: 270C
  7. Suhu udara: 260C
  8. pH air laut: 4
 

4 0/00

  1. Airnya jernih
  2. Terdapat limbah hasil pembuangan kapal
  3. 1000 meter ke sebelah kiri darmaga penyeberangan Labuhan Lombok

 

 

Tabel 4.10 Spesies-Spesies Terumbu Karang yang Ditemukan

NO

Suku/Family

Marga/Genus

Jenis/Spesies

Stasiun ke- V

1

Acroporidae

Acropora

Acropora mikropthalma

3

2

Astrocoeniidae

Madracis

Madracis carmabi

1

3

Astrocoeniidae

Madracis

Madracis mirambilis

4

Dendrophyliidae

Laptopsamia

Laptopsamia trinitatis

7

 5

Hydrozoan

Millepora

Millepora striata

6

Meandrinidae

Eusmilia

Eusmilia fastigiata

4

7

Mussidae

Musa

Musa angulosa

2

 

  1. b.      Spesies Terumbu Karang

1)               Acropora mikropthalma

 

Ciri-ciri morfologi: bercabang-cabang, seperti ranting pada pohon dan warna merah muda, banyak terdapat tumbuhan di sekitarnya. sedangkan keberadaan terumbu karang ini di tanah yang berlumpur dan banyak terdapat minyak kapal akibat dari sisa-sisa pembakaran sehingga sangat menganggu keberadaan terumbu karang tersebut.

2)               Madracis carmabi

 

Ciri-ciri morfologi: cabangnya hanya sedikit, cabangnya berbentuk oval atau bulat, warnanya kuning kehijauan dan keberadaan terumbu karang ini terdapat di tempat yang banyak mengandung batu-batuan atau kerikil da tidak terdapat limbah-limbah dari hasil pembakaran kapal sehingga pertumbuhan dan perkembangan terumbu karang ini sangat baik.

3)               Laptopsamia trinitaris

 

Ciri-ciri morfologi: berlubang-lubang, halus dan panjang, berkoloni banyak dan warnanya oranye. Sedangkan keberadaan terumbu karang ini terdapat di tempat yang berlumpur dan banyak terdapat banyak minyak kapal akibat dari sisa-sisa pembakaran.

 

4)               Eusmilia fastigiata

 

Ciri-ciri morfologi: berlubang, bulat atau oval, warnanya merah muda dan hijau. Sedangkan keberadaan terumbu karang ini terdapt di tempat yang berpasir dan tidak ada terdapat tumbuhan di sekitarnya namun banyak terdapat banyak limbah-limbah dari sisa-sisa pembakaran kapal.

5)               Musa angulosa

 

Ciri-ciri morfologi: bergumpal, polipnya berdaging dan warnanya abu-abu. Sedangkan keberadaan terumbu karang ini di tempat yang berlumpur dan sedikir terdapat minyak-minyak kapal akibat dari pembuangan mengganggu pertumbuhan dan perkembanagan terumbu karang.

Pada stasiun V jumlah terumbu karang yang didapatkan sebanyak 5 family, dengan jumlah masing-masing family memiliki satu jenis spesies. Oleh karena itu jumlah spesies yang didapatkan pada stasiun ini sebanyak 5 spesies. Jumlah individu masing-masing spesies pada stasiun ini beragam dimana, jumlah individu yang paling banyak ditemukan yaitu dari spesies Laptopsamia trinitatis, sedangkan yang paling sedikit ditemukan yaitu dari spesies Madracis carmabi, sedangkan pada spesies Madracis mirambilis dan Millepora striata tidak ditemukan sama sekali. Dengan kondisi lingkungan berupa pH tanah 5,1, suhu air laut 270C, suhu udara 270C dan pH air laut 5.

Jarak stasiun ini paling jauh dengan darmaga penyeberangan yakni 1 km, hal ini menyebabkan kadar pH dari stasiun ini 5,3 namun pH dari air laut juga sedikit asam yakni 4 ini terjadi karena pembuangan limbah kapal ini terjadi di tengah laut sehingga terlihat dari air lautnya ada limbah. Stasiun ini hampir sama dengan stasiun IV karena stasiun ini juga mengalami dampak dari surut air laut yaitu banyak dari penambangan liar yang mengambil keuntungan dari peristiwa bulan purnama yaitu mengambil beberapa jenis terumbu karang yang paling banyak diambil adalah jenis Acropora micropthalma sedangkan jenis Madracis mirambilis tidak ditemukan pada stasiun ini karena tidak tahan terhadap kandungan air laut.

 

 

Tabel 4.11 Hasil Identifikasi Terumbu Karang di Kawasan Pesisir Dermaga Penyeberangan Labuhan Lombok Bulan November 2012

 

NO

Suku/Family

Marga/Genus

Jenis/Spesies

STASIUN KE-

TOTAL INDIVIDU

I

II

III

IV

V

1

Acroporidae

Acropora

Acropora mikropthalma

7

2

4

3

16

2

Astrocoeniidae

Madracis

 

Madracis carmabi

5

4

5

3

1

18

3

Astrocoeniidae

Madracis

Madracis mirambilis.

4

7

2

4

17

4

Dendrophyliidae

Laptopsamia

Laptopsamia trinitatis

4

3

5

7

19

5

Hydrozoan

Millepora

Millepora striata

1

3

2

3

9

6

Meandrinidae

Eusmilia

Eusmilia fastigiata

2

9

7

6

4

28

7

Mussidae

Musa

Musa angulosa

4

2

5

4

2

17

 

Berdasarkan hasil penelitian lapangan di kawasan pesisir dermaga labuhan lombok diperoleh data terumbu karang sebanyak 7 family dengan 7 spesies. Dari semua stasiun didapatkan bahwa spesies Eusmilia fastigiata yang paling banyak didapatkan, mengapa bisa begitu? Terumbu karang dengan spesies Eusmilia fastigiata ini paling kuat bertahan pada suhu di lingkungan pesisir penyebrangan  Labuhan Lombok.

Kondisi arus air di stasiun darmaga tenang tidak ada ombak, karena disetiap stasiun diambil di sekitar dermaga penyeberangan Labuhan Lombok, oleh karena itu kondisi arus dari semua stasiun sama keadaannya, ini yang menyebabkan banyak jenis terumbu karang yang bertahan hidup di tempat tersebut hanya saja terganggu pertumbuhan dan perkembangan disebabkan oleh adanya aktivitas manusia yaitu, pembuangan limbah kapal dan penambangan liar yang dilakukan masyarakat setempat.

Tabel 4.12 Data Faktor Fisika-Kimia Lokasi Penelitian

 di Kawasan Pesisir Dermaga Penyeberangan Labuhan Lombok 2012

 

NO

Stasiun

Faktor Fisika-Kimia

pH tanah

Suhu air Laut

Suhu udara

pH air Laut

1

I

5,4

29 0C

32 0C

5

2

II

4,1

29 0C

27 0C

5

3

III

4,2

28 0C

26 0C

4

4

IV

5,1

26 0C

27 0C

5

5

V

5,3

27 0C

26 0C

4

Ditinjau dari hasil penelitian di atas kawasan pesisir dermaga penyeberangan Labuhan Lombok layak dijadikan sebagai salah satu objek penelitian bagi para mahasiswa jurusan IPA biologi, karena tingkat keragaman spesiesnya terbilang  cukup beragam oleh karena itu perlu dikembangkan untuk melakukan studi penelitian di kawasan pantai Labuhan Lombok.

  Kaitannya dengan kajian mata kuliah pengetahuan lingkungan, hasil penelitian ini bisa di jadikan sebagai suplemen pada materi mata kuliah pengetahuan lingkungan. Hasil penelitian ini yang bisa dijadikan materi adalah ada keberagaman jenis terumbu karang yang ditemukan pada masing-masing stasiun penelitian. Pertumbuhan terumbu karang dapat dipengaruhi oleh keberadaan lingkungan. Salah satunya adalah keberadaan pH dari air laut tersebut ini di pengaruhi oleh keadaan lingkungan, keadaan lingkungan ini salah satunya disebabkan oleh salah satu aktifitas manusia. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa, pada beberapa stasiun ditemukan perbedaan spesies terumbu karang perbedaan ini disebabkan oleh kandungan pH pada masing-masing stasiun.

  1. C.       Pembahasan

Terumbu karang merupakan sekumpulan hewan karang yang bersimbiosis dengan sejenis tumbuhan alga yang disebut Zooxanhellae. Terumbu karang termasuk dalam jenis filum Cnidaria kelas Anthozoa yang memiliki tentakel. Kelas Anthozoa tersebut terdiri dari dua Subkelas yaitu Hexacorallia (atau Zoantharia) dan Octocorallia, yang keduanya dibedakan secara asal-usul. Adapun ciri-ciri terumbu karang yang masih adaptif yaitu mengandung: (1). Sponge, (2). Coralline algae yang warnanya cerah, (3). Cacing kipas kecil, dan (4). Bercela banyak atau berpori-pori banyak. [56]

Dari hasil pengamatan yang dilakukan  jenis terumbu karang yang paling banyak didapatkan yaitu, dari spesies Eusmilia fastigiata (Family: Meandrinidae). Sedangkan yang paling sedikit yaitu dari spesies Millepora striata (Family: Hydrozoan).

Terumbu karang jenis Eusmilia fastigiata merupakan Bunga karang yang kolonial spesies yang tumbuh sampai sekitar 50 cm (20 inci). Ini membentuk gundukan rendah berbatu kalsium karbonat , permukaan yang ditutupi dengan proyeksi tubular, parakoralit , dalam kelompok satu sampai tiga. Para polip menonjol dari ini dan baik bulat atau oval, dengan bentuk oval yang lebih umum pada kedalaman moderat. Mereka besar dan luas spasi dan dihubungkan oleh lapisan tembus, seperti jelly mesoglea jaringan yang disebut coenenchyme yang meliputi permukaan kerangka karbonat. Pada siang hari mereka ditarik kembali ke dalam cangkir berbentuk koralit. Ini memiliki besar mulus bermata pegunungan yang disebut septa, dan polip memiliki alur yang sesuai di pangkalan mereka. Pada malam hari, polip meregangkan keluar tembus putih mereka tentakel untuk memberi makan dan karang “bunga”. Hal ini biasanya cream, kuning atau coklat pucat, sering dengan semburat hijau atau merah muda.[57] Sedangkan terumbu karang jenis Millepora striata merupakan Spesies ini kurang dikenal. Umumnya ditemukan di perairan pantai daerah ditandai dengan kekeruhan, dan menunjukkan toleransi untuk siltasi. Mereka sering terjadi di lokasi lepas pantai yang jelas.[58]

 Adapun yang menyebabkan spesies Eusmilia fastigiata lebih banyak karena ia lebih mampu bertahan hidup pada kondisi yang ekstrim seperti suhu laut, suhu pantai, suhu lingkungan, pH tanah dan pH air laut. Sedangkan pada spesies Millepora striata terdapat lebih sedikit karena ia tidak mampu bertahan hidup pada kondisi yang ekstrim seperti suhu laut, suhu pantai, suhu lingkungan, pH tanah dan pH air laut. Adapun juga salah satu faktor yang menyebabkan adanya perbedaan jumlah individu dari masing-masing spesies dalam semua stasiun disebabkan oleh keadaan dari spesies tersebut. Salah satunya yaitu dari faktor tingkat pertahanan dari spesies tersebut terhadap lingkungan.

Menyingggung masalah faktor pendukung dari perkembangbiakan terumbu karang ditinjau dari lingkungannya, adalah kondisi fisika dan kimia dari lingkungan tersebut. Peneliti melakukan Pengukuran kondisi fisika-kimia dilakukan pada pagi, siang, sore dan malam. Setiap stasiun memiliki kondisi fisika kimia yang berbeda, begitu pula dengan spesies yang didapatkan.

Besarnya keanekaragaman sangat dipengaruhi oleh faktor fisika-kimia tanah. Pengukuran pH tanah juga sangat penting karena keberadaan dan kepadatan terumkbu karang sangat tergantung pada pH tanah, ada terumbu karang yang memilih hidup pada tanah yang pHnya asam dan ada pula terumbu karang yang seneng pada pH yang basa. Pengukuran faktor fisika-kimia yang dilakukan didapatkan data yang tidak berbeda nyata, sehingga pengaruhnya terhadap keanekaragaman terumbu karang tidak terlalu terlihat.

Keadaan penduduk di sekitar lingkungan sangat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan terumbu karang tersebut. Adapun aktifitas yang dilakukan oleh penduduk yang berada disekitar lingkungan tersebut yaitu, pembuangan limbah bahan bakar ke pantai mempengaruhi ekosistem terumbu karang seperti pembuangan limbah kapal berupa oli atau sisa bahan  bakar kapal laut. Hal tersebut dapat mempengaruhi pertumbuhan dan  perkembangan terumbu karang. Selain dari akibat pembuangan limbah bahan bakar kapal ke daerah perairan serta penambangan liar yang dilakuakan penduduk setempat terhadap terumbu karang untuk tujuan tertentu.

Hasil penelitian ini bisa dijadikan suplemen pada kajian mata kuliah Pengetahuan Lingkungan, khususnya mengenai masalah lingkungan dan strategi pengembangan masalah lingkungan. pada hasil penelitian ini memberikan pengetahuan tentang apa yang dimaksud dengan lingkungan, apa saja yang menyusun lingkungan, bagaimana lingkungan dapat dikatakan lestari, apa saja yang menyebabkan penurunan kualitas kelestarian tersebut dan bagaimana cara mengatasi permasalahan lingkunagan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB V

PENUTUP

  1. A.       Simpulan

Berdasarkan hasil pengamatan di kawasan pesisir penyeberangan dapat disimpulkan bahwa:

  1.  Jenis-jenis terumbu karang yang ditemukan di pesisir dermaga penyeberangan Labuhan Lombok yaitu Acropora mikropthalma, Madracis carmabi, Madracis mirambilis, Laptopsamia trinitatis, Millepora striata, Eusmilia fastigiata, Musa angulosa.Terumbu karang yang paling banyak ditemukan yaitu dari spesies Eusmilia fastigiata. Sedangkan yang paling sedikit yaitu dari spesies Millepora striata.
  2.  Adapun ciri-ciri morfologi terumbu karang yang ditemukan yang masih adaptif adalah, berpori-pori banyak, bercabang-cabang, warnanya masih cerah, berkoloni dan terdapat alga di terumbu karang tersebut.
  3.  Pada hasil penelitian ini yang bisa dijadikan sebagai materi pada mata kuliah pengetahuan lingkungan adalah pencemaran lingkungan dan strategi pengembangan lingkungan.

 

 

 

 

 

 

 

  1. B.        Saran
    1.  Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk masyarakat sekitar, pemerintah daerah setempat dan para nelayang disekitar pesisir dermaga penyeberangan Labuhan Lombok.
    2.  Penelitian ini sifatnya mendasar, oleh karena itu perlu diadakan penelitian lebih lanjut bagi para peneliti selanjutnya.
    3.  Bagi masyarakat setempat diharapkan dapat menjaga lingkungan sekitar, tidak lagi melakukan penambangan, pembuangan limbah ke laut, sehingga terumbu karang bisa berkembang biak dengan baik.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Agrihobi Seri, Akuarium Laut Cara Mudah Memindahkan Panorama Kehidupan Laut Kerumah Anda. Depok: penebar swadaya,2004

 

Arikunto Suharsimi, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta, 2000

 

F.F Melati, Metode Sampling Bioekologi. Jakarta: PT Bumi Aksara, 2006

 

H. M. Ghupran, Ekosistem Terumbu Karang. Jakarta: PT Rineka Cipta, 2010

 

http://wacanasainsperikanan.blogspot.com/2010/09/anatomi-karang.html Diakses Pada Tanggal 20 Juni 2012 Pukul 21.30 WITA

 

http://dhini.student.umm.ac.id/download-as-pdf/umm_blog_article_52.pdf. Diakses Tanggal 24 Agustus Jam 22. 20 Wita

 

http://Theresia Retno Wulan, Kifni Soleman dan Rusthamrin H. Akuba Pengembangan dan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Provinsi Gorontalo, diakses tanggal 11 juni 2012 jam 21.30

 

http://www.iucnredlist.org/details/133466/0 Diakses Pada Tanggal 16 Februari 2013 Jam  21.28 Wita

 

http://en.wikipedia.org/wiki/Eusmilia di akses pada tanggal 16 Februari 2013 jam 21. 08 wita

 

Kusriningrum, Perancangan Percobaan. Surabaya: Airlangga University Press, 2010

 

Moleong, L. J, Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2002

 

Margono, Metodelogi Penelitian Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta, 2004

 

Notoatmojo Seokidjo, Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta, 2002

 

Puspitaningasih, Mengenal Ekosistem Laut & Pesisir. Indonesia: Pustaka Sains, 2012

 

Riduan, Dasar-Dasar Statistika. Bandung: Alfabeta, 2003

Soemarwoto Otto, Kehidupan Terumbu Karang. Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2003

 

Slamet Juli Soemirat, kesehatan lingkungan. Bandung: Gadjah Mada University Press, 1994

 

Supriharyono, Pengelolaan Ekosistem Terumbu Karang. Jakarta: Djambatan, 2000

 

Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta, 2011

 

Sastrawijaya Tresna, Pencemaran Lingkungan. Jakarta: PT Rineka Cipta, 2009

 

Thohir K. A, Butir-Butir Tata Lingkungan. Jakarta: Bina Aksara, 1985

 

Tim Penulis, Penulisan Skripsi IAIN Mataram. Mataram: IAIN Mataram, 2009

 

Tjitrosoepomo Gembong, Taksonomi Umum. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press, 2006

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LAMPIRAN I: Spesies Terumbu Karang yang Ditemukan  di kawasan Pesisir  Dermaga Penyeberangan Labuhan Lombok Pada Bulan November 2012

 

 

Kingdom    : Animalia

Phylum       : Colentrata

Clas             : Antozoa

Ordo           : Scleratinia

Family         : Acroporidae

Genus         : Acropora

Spesies        : Acropora micropthalma

 

 

 

 

 

Kingdom       : Animalia

Phylum          : Colentrata

Clas                : Antozoa

Ordo              : Scleratinia

Family            : Astrocoeniidae

Genus                        : Madracis

Spesies           : Madracis mirambilis

 

 

Kingdom       : Animalia

Phylum          : Colentrata

Clas                : Antozoa

Ordo              : Scleratinia

Family            : Astrocoeniidae

Genus                        : Madracis

Spesies           : Madracis carmabi

 

 

 

Kingdom       : Animalia

Phylum          : Colentrata

Clas                : Antozoa

Ordo              : Scleratinia

Family            : Dendrophyliidae

Genus                        : Laptopsamia

Spesies           : Laptopsamia trinitatis

 

 

 

Kingdom       : Animalia

Phylum          : Colentrata

Clas                : Antozoa

Ordo              : Scleratinia

Family            : Meandrinidae

Genus                        : Eusmilia

Spesies           : Eusmilia fastigiata

 

 

 

 

Kingdom       : Animalia

Phylum          : Colentrata

Clas                : Antozoa

Ordo              : Scleratinia

Family            : Mussidae

Genus                        : Musa

Spesies           : Musa angulosa

 

 

 

Kingdom       : Animalia

Phylum          : Colentrata

Clas                : Antozoa

Ordo              : Scleratinia

Family            : Hydrozoan

Genus                        : Mellipora

Spesies           : Mellipora striata

 

 

 

 

 

 

 

 

Lampiran II: Beberapa Contoh Foto Penelitian di Kawasan Pesisir Dermaga Penyeberangan Labuhan Lombok Pada Bulan November 2012

 

 

 

 

 

 

 

 

 

JUDUL PRAKTIKUM

IDENTIFIKASI JENIS KARANG YANG MASIH ADAPTIF DENGAN LINGKUNGAN PADA PESISIR DERMAGA PENYEBERANGAN LABUHAN LOMBOK SEBAGAI KAJIAN PADA MATA KULIAH

PENGETAHUAN LINGKUNGAN

 

  1. A.    Landasan teori

Terumbu karang (coral reefs) merupakan masyarakat organisme yang hidup di dasar perairan laut dangkat terutama di daerah tropis. Terumbu karang disusun oleh karang-karang jenis anthozoa dari klas scleractinia, yang mana termasuk hermatyfic coral atau jenis-jenis karang yang mampu membuat bangunan atau kerangka karang dari kalsium karbonat (Vaughan dan Wells, 1943). Struktur  bangunan batuan kapur tersebut (CaCO3) cukup kuat, sehingga koloni karang mampu menahan gelombang dari air laut. Sedangkan asosiasi organisme-organisme yang dominan hidup di sini di samping scleractinian adalah algae yang banyak diantaranya juga mengandung kapur.[59]

Terumbu karang (coral reefs) merupakan kelompok organisme yang hidup di dasar perairan laut dangkal, terutama di daerah tropis. Meskipun karang ditemukan hampir di seluruh dunia, baik di perairan kutub maupun di perairan Uguhari, tetapi hanya di daerah tropik terumbu dapat berkembang, karena pembentukan terumbu karang digunakan untuk membatasi lingkungan lautan tropik.[60]

 

 

  1. Anatomi dan Morfologi Terumbu Karang
    1. Anatomi Terumbu Karang

Anatomi adalah ilmu yang mempelajari organ-organ bagian dalam pada tubuh  mahluk hidup. Anatomi pada terumbu karang adalah:

1)      Mulut dikelilingi oleh tentakel yang berfungsi untuk menangkap mangsa dari perairan serta sebagai alat pertahanan diri.

2)      Rongga tubuh (coelenteron) yang juga merupakan saluran pencernaan (gastrovascular).

3)      Dua lapisan tubuh yaitu ektodermis dan endodermis yang lebih umum disebut gastrodermis karena berbatasan dengan saluran pencernaan. Diantara kedua lapisan terdapat jaringan pengikat tipis yang disebut mesoglea. Jaringan ini terdiri dari sel-sel, serta kolagen, dan mukopolisakarida. Pada sebagian besar karang, epidermis akan menghasilkan material guna membentuk rangka luar karang. Material tersebut berupa kalsium karbonat (kapur).[61]

  1. Morfologi Terumbu Karang

Karang memiliki berbagai ukuran, bentuk dan warna. Ada yang menyerupai daun dan ada juga yang menyerupai tumbuhan. Ada pula karang yang bulat seperti seperti bola dan berkerut sehingga tampak seperti otak manusia. Bentuk karang ini yang beragam ini merupakan ciri khas setiap spesies dan merupakan hasil pola pertumbuhan jutaan hewan kecil yang membentuk suatu koloni. Selain bentuk yang beragam di dalam laut karang terlihat warna-warni. Bila karang mati atau dikeluarkan dari air warnanya akan memudar.[62]

Adapun Morfologi pada terumbu karang yaitu:

1)      Tentakel, pada hewan karang digunakan untuk mencari makanan.

2)      Rangka, pada karang ini terbuat dari kalsium karbonat (CaCO3) atau batu kapur. Jika karang ini mati rangka pada karang masih tetap ada rangka inilah yang dijual sebagai hiasan.

3)      Zooxanthella, Tampak seperti bintik-bintik di dalam jaringan hewan karang yang hampir transparan.

4)      Coelenteron, Penyusun dari pada hewan karang yang mampu menghasilkan bangunan atau kerangka karang dari kalsium karbonat (CaCO3).[63]

  1. Reproduksi Terumbu Karang

Reproduksi adalah suatu proses biologis dimana individu organisme baru diproduksi. Binatang karang berkembang biak (bereproduksi) secara aseksual dan seksual.

  1. Secara aseksual karang berkembang biak melalui fragmentasi dan pertunasan (budding) untuk membentuk polip baru. Pembentukan tunas secara terus menerus merupakan mekanisme untuk menambah ukuran koloni baru (Nybakken, 1988). Tergantung pada spesiesnya, polip baru tumbuh secara ekstratentakular dan intertentakular. Pada pertunasan ekstratentakular, polip yang baru tumbuh dari setengah bagian tubuh ke bawah, sedangkan pada intertentakular, polip baru tumbuh dari penyekatan membujur mulai dari oral disk kea rah aboral. Proses pertunasan diikuti pembentukan sklerosepta dan mangkuk dari masing-masing polip baru (Suwignyo et al., 2005).
  2. Secara seksual atau kawin dilakukan melalui pemijahan atau pertemuan antara ovarium dan testis. Karang dapat bersifat hermaphrodite, dimana ovarium dan testis berada dalam satu individu polip, dan dioecious, yaitu ovarium dan testis berada dalam individu polip yang berbeda. Kebanyakan karang mencapai dewasa pada umur antara 7-10 tahun.[64]

Pada terumbu karang ada dua macam cara pembuahannya, yaitu:

1)      Telur-telur dibuahi di dalam gastrovascular cavity (viviparous), dan gonadnya berkembang di mesenterial chamber (biasanya untuk masive coral) atau dibody cavities (untuk branching coral), selanjutnya membebaskan produksinya berupa planula larva.

2)      Telur-telur dibuahi di luar tubuh yaitu di dalam air laut (bukan vivaparous). Namun berdasarkan hasil penelitian beberapa peneliti, diantaranya adalah Harrison et al (1984), karang cendrung lebih banyak yang bukan viviparous dari pada yang viviparous.[65]

 

  1. Ciri-ciri Terumbu Karang yang Masih Adaptif.

Ciri-ciri terumbu karang yang masih adaptif atau yang masih hidup yaitu terumbu karang yang masih mengandung berbagai jenis kehidupan didalamnya seperti sponge dan cacing kipas kecil.[66]

Dari pemaparan di atas, terumbu karang yang masih adaptif atau yang hidup adalah terumbu karang yang masih penuh dengan coralline algae yang warnanya cerah. Idealnya karang hidup bercela banyak atau berpori-pori.

  1. B.     Alat dan Bahan
  2. Alat

No

Nama Alat

Kegunaanya

Jumlah

1

Kamera bawah air

Untuk mendokumentasi semua terumbu karang yang ditemukan

1 buah

2

Snorcle

Untuk menyelam

1 buah

3

Meteran

Untuk mengukur luas petak yang digunakan

1 buah

4

Pasak

 

Untuk mengikat tali rapia

4 buah

5

Kaca pembesar

Untuk melihat organ luar dari terumbu karang tersebut

1 buah

6

Alat tulis

Untuk mencatat data dari semua hasil penelitian

1 buah

 

  1. Bahan

No

Bahan

Kegunaannya

Jumlah

1

Teumbu karang

Sebagai bahan praktikum

 7 spesies

2

Tali rapia

Di gunakan untuk memberikan batas daerah sampel yang digunakan

1 rol

3

Tanah

Untuk mengetahui ph tanah

 

4

Air laut

Untuk mengetahui ph air laut

 

5

Udara

Untuk mengetahui suhu udara di sekitar lingkungan penelitian

 

 

  1. C.    Cara Kerja
  2. Pelaksanaan penelitian
    1. Menentukan lokasi pengambilan sampel di kawasan pantai labuhan lombok
    2. Mengukur lokasi dan membuat petak
    3. Menentukan stasiun yang dijadikan sampel
    4. Tahap pelaksanaan
      1. Menyelam ke dalam air dengan menggunakan snorcling
      2. Mencari terumbu karang yang masih hidup
      3. Mengamati terumbu karang
      4. Mencatat morfologi terumbu karang
      5. Mendokumentasi terumbu karang yang masih hidup
      6. D.    Hasil Pengamatan

Tabel Hasil Identifikasi Terumbu Karang di Kawasan Pesisir Dermaga Penyeberangan Labuhan Lombok Bulan November 2012

 

No

Suku/Family

Marga/Genus

Jenis/Spesies

STASIUN KE-

TOTAL INDIVIDU

I

II

III

IV

V

1

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

3

 

 

 

 

 

 

 

 

 

4

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

5

 

 

 

 

 

 

 

 

 

6

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

7

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tabel Data Faktor Fisika-Kimia Lokasi Penelitian

 di Kawasan Pesisir Dermaga Penyeberangan Labuhan Lombok 2012

 

No

Stasiun

Faktor Fisika-Kimia

pH tanah

Suhu air Laut

Suhu udara

pH air Laut

1

 

 

 

 

 

2

 

 

 

 

 

3

 

 

 

 

 

4

 

 

 

 

 

5

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. E.     Pembahasan

Terumbu karang merupakan sekumpulan hewan karang yang bersimbiosis dengan sejenis tumbuhan alga yang disebut Zooxanhellae. Terumbu karang termasuk dalam jenis filum Cnidaria kelas Anthozoa yang memiliki tentakel. Kelas Anthozoa tersebut terdiri dari dua Subkelas yaitu Hexacorallia (atau Zoantharia) dan Octocorallia, yang keduanya dibedakan secara asal-usul. Adapun ciri-ciri terumbu karang yang masih adaptif yaitu mengandung: (1). Sponge, (2). Coralline algae yang warnanya cerah, (3). Cacing kipas kecil, dan (4). Bercela banyak atau berpori-pori banyak. [67]

Dari hasil pengamatan yang dilakukan  jenis terumbu karang yang paling banyak didapatkan yaitu, dari spesies Eusmilia fastigiata (Family: Meandrinidae). Sedangkan yang paling sedikit yaitu dari spesies Millepora striata (Family: Hydrozoan).

Adapun yang menyebabkan spesies Eusmilia fastigiata lebih banyak karena ia lebih mampu bertahan hidup pada kondisi yang ekstrim seperti suhu laut, suhu pantai, suhu lingkungan, pH tanah dan pH air laut. Sedangkan pada spesies Millepora striata terdapat lebih sedikit karena ia tidak mampu bertahan hidup pada kondisi yang ekstrim seperti suhu laut, suhu pantai, suhu lingkungan, pH tanah dan pH air laut. Adapun juga salah satu faktor yang menyebabkan adanya perbedaan jumlah individu dari masing-masing spesies dalam semua stasiun disebabkan oleh keadaan dari spesies tersebut. Salah satunya yaitu dari faktor tingkat pertahanan dari spesies tersebut terhadap lingkungan.

Menyingggung masalah faktor pendukung dari perkembangbiakan terumbu karang ditinjau dari lingkungannya, adalah kondisi fisika dan kimia dari lingkungan tersebut. Peneliti melakukan Pengukuran kondisi fisika-kimia dilakukan pada pagi, siang, sore dan malam. Setiap stasiun memiliki kondisi fisika kimia yang berbeda, begitu pula dengan spesies yang didapatkan.

Besarnya keanekaragaman sangat dipengaruhi oleh faktor fisika-kimia tanah. Pengukuran pH tanah juga sangat penting karena keberadaan dan kepadatan terumkbu karang sangat tergantung pada pH tanah, ada terumbu karang yang memilih hidup pada tanah yang pHnya asam dan ada pula terumbu karang yang seneng pada pH yang basa. Pengukuran faktor fisika-kimia yang dilakukan didapatkan data yang tidak berbeda nyata, sehingga pengaruhnya terhadap keanekaragaman terumbu karang tidak terlalu terlihat.

  1. F.     Simpulan

Jenis-jenis terumbu karang yang ditemukan di pesisir dermaga penyeberangan Labuhan Lombok yaitu Acropora mikropthalma, Madracis carmabi, Madracis mirambilis, Laptopsamia trinitatis, Millepora striata, Eusmilia fastigiata, Musa angulosa.Terumbu karang yang paling banyak ditemukan yaitu dari spesies Eusmilia fastigiata. Sedangkan yang paling sedikit yaitu dari spesies Millepora striata.

Besarnya keanekaragaman sangat dipengaruhi oleh faktor fisika-kimia tanah. Pengukuran pH tanah juga sangat penting karena keberadaan dan kepadatan terumkbu karang sangat tergantung pada pH tanah, ada terumbu karang yang memilih hidup pada tanah yang pHnya asam dan ada pula terumbu karang yang seneng pada pH yang basa. Pengukuran faktor fisika-kimia yang dilakukan didapatkan data yang tidak berbeda nyata, sehingga pengaruhnya terhadap keanekaragaman terumbu karang tidak terlalu terlihat

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Agrihobi Seri, Akuarium Laut Cara Mudah Memindahkan Panorama Kehidupan Laut Kerumah Anda. Depok: penebar swadaya,2004

 

H. M. Ghupran, Ekosistem Terumbu Karang. Jakarta: PT Rineka Cipta, 2010

 

http://wacanasainsperikanan.blogspot.com/2010/09/anatomi-karang.html Diakses Pada Tanggal 20 Juni 2012 Pukul 21.30 WITA

 

Puspitaningasih, Mengenal Ekosistem Laut & Pesisir. Indonesia: Pustaka Sains, 2012

 

Supriharyono, Pengelolaan Ekosistem Terumbu Karang. Jakarta: Djambatan, 2000

 

 


[1]M. Ghupran H. Kordi K, Ekosistem Terumbu Karang (Jakarta: Rineka Cipta, 2010), h. 1

[2]M. Ghupran H. Kordi K, Ekosistem Terumbu Karang (Jakarta: Rineka Cipta, 2010), h. 73

[4]Tjitrosoepomo Gembong, Taksonomi Umum (Yogyakarta : Gdjah Mada University Press, 2006), h. 70.

[5] Ahmad A.K. Muda Kamus Suku Biologi (Bandung, Gita Media Press, 2009), h. 195

[6]Puspitaningasih, Mengenal Ekosistem Laut & Pesisir (Jawa Barat Indonesia: Pustaka Sains 2012), h. 24.

[7]M. Ghupran H. Kordi K, Ekosistem Terumbu Karang (Jakarta: Rineka Cipta, 2010), h. 6.

[8]Seri Agrihobi, Akuarium Laut Cara Mudah Memindahkan Panorama Kehidupan Laut Kerumah Anda (Depok: Penebar Swadaya 2004), h, 49.

[9]Otto Soemarwanto, Kehidupan Terumbu Karang  (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2003), h.9.

[10]A. Tresna Sastrawijaya, M. SC, Pencemaran Lingkungan Edidsi Revisi 2009 (Jakarta:  RINEKA CIPTA), h. 7.

[11]Supriharyono, M.S, Pengelolaan Ekosistem Terumbu Karang (Jakarta: Djambatan, 2000), h. 1.

[12]M. Ghupran H. Kordi K,  Ekosistem Terumbu Karang (Jakarta: Rineka Cipta, 2010), h. 6.

[13]Puspitaningasih, Mengenal Ekosistem Laut & Pesisir (Jawa Barat Indonesia: Pustaka Sains 2012), h. 24.

[14] Melati Ferianita Fachrul, Metode Sampling Bioekologi (Jakarta: Bumi Aksara, 2007),h.125.

[15]Otto Soemarwanto, Kehidupan Terumbu Karang  (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2003), h. 4.

[16]Otto Soemarwanto, Kehidupan Terumbu Karang  (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2003), h. 3.

[17]Lilis, Klasifikasi Hewan (Jakarta : kawan pustaka, 2007), h.2.

[18]Diambil dari jurnal  Theresia Retno Wulan, Kifni Soleman 1) dan Rusthamrin H. Akuba 2), Pengembangan dan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Provinsi Gorontalo, di akses tanggal 11 juni 2012 jam 21.30.

[19]Otto Soemarwanto, Kehidupan Terumbu Karang  (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2003), h. 2.

[20]Puspitaningasih, Mengenal Ekosistem Laut & Pesisir (Jawa Barat Indonesia: Pustaka Sains 2012), h. 25.

[21]http://wacanasainsperikanan.blogspot.com/2010/09/anatomi-karang.html Di Akses Pada Tanggal 20 Juni 2012 Pukul 21.30 WITA.

[22]Puspitaningasih, Mengenal Ekosistem Laut & Pesisir (Jawa Barat Indonesia: Pustaka Sains 2012), h. 22.

[23]Puspitaningasih, Mengenal Ekosistem Laut & Pesisir (Jawa Barat Indonesia: Pustaka Sains 2012), h. 19.

[24]M. Ghupran H. Kordi K,  Ekosistem Terumbu Karang (Jakarta: Rineka Cipta, 2010), h. 9.

[25]Supriharyono, M.S, Pengelolaan Ekosistem Terumbu Karang (Jakarta: Djambatan 2000), h. 61.

[26]Seri Agrihobi, Akuarium Laut Cara Mudah Memindahkan Panorama Kehidupan Laut Kerumah Anda (Depok: Penebar Swadaya 2004), h, 49.

[27]M. Ghupran H. Kordi K,  Ekosistem Terumbu Karang (Jakarta: Rineka Cipta, 2010), h. 80.

[28] Puspitaningasih, Mengenal Ekosistem Laut & Pesisir (Jawa Barat Indonesia: Pustaka Sains 2012), h. 24.

[29]M. Ghupran H. Kordi K,  Ekosistem Terumbu Karang (Jakarta: Rineka Cipta, 2010), h. 74.

[30]Ibid..h. 79.

[31]Puspitaningasih, Mengenal Ekosistem Laut & Pesisir (Jawa Barat Indonesia: Pustaka Sains 2012), h. 75.

[32]M. Ghupran H. Kordi K, Ekosistem Terumbu Karang (Jakarta: Rineka Cipta, 2010), h. 82.

[33]Juli Soemirat Slamet, Kesehatan Lingkungan (Bandung: Gadjah Mada University Press,2002), h. 16.

[34]Puspitaningasih, Mengenal Ekosistem Laut & Pesisir (Jawa Barat Indonesia: Pustaka Sains 2012), h. 72.

[35]Ibid..h.35.

[36]Kaslan A. Thohir, Butir-Butir Tata Lingkungan (Jakarta: Bina Aksara1985), h.3.

[37]A. Tresna Sastrawijaya, M. SC, Pencemaran Lingkungan Edidsi Revisi 2009 (Jakarta:  RINEKA CIPTA), h. 2.

[38]Tim Penulis, Penulisan Skripsi Iain Mataram (Mataram: Iain Mataram, 2009), h.45.

[39]LEXY J. MOLEONG, M.A, Metodologi Penelitian Kualitatif  (Bandung: Remaja Rosdakarya), h.2.

[40]Seokidjo Notoatmojo, Metodologi Penelitian Kesehatan (Jakarta: Rineka Cipta, 2002), h. 138.

[41]A. Tresna Sastrawijaya, M.Sc, Pencemaran Lingkungan (Jakarta: PT RINEKA CIPTA), h.18.

[42]Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif  kualitatif dan R&D (Bandung: Alfabeta,2011), h. 81.

[43]Kusriningrum R.S, Perancangan Percobaan (surabaya: Airlangga Universiti Press, 2010), h. 6.

[44]Melati Ferianita Fachrul Metode Sampling Bioekologi (Jakarta: Bumi Aksara, 2007),h.41.

[45]Ibid, h.40.

[46]Ibid, h. 45.

[47]Margono, Metodelogi Penelitian Pendidikan. (Jakarta: Rineka Cipta, 2004)  h.135.

[48]Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik . (Jakarta: Rineka Cipta, 2006). h. 150.

[49]Riduan, Dasar-Dasar Statistika (Bandung : Alfabeta, 2003), h. 57.

[50]Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif  kualitatif dan R&D (Bandung: Alfabeta,2011) ,  h. 145.

[51]Melati Ferianita Fachrul, Metode Sampling Bioekologi (Jakarta: Bumi Aksara, 2007),h.40.

[52]Ibid, h.45.

[53]Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik . Jakarta: Rineka Cipta 2000. h. 201.

[54]Puspitaningasih, Mengenal Ekosistem Laut & Pesisir (Jawa Barat Indonesia: Pustaka Sains 2012), h. 22.

[55]Supriharyono, M.S, Pengelolaan Ekosistem Terumbu Karang (Jakarta: Djambatan 2000), h. 61.

[56] Seri Agrihobi, Akuarium Laut Cara Mudah Memindahkan Panorama Kehidupan Laut Kerumah Anda (Depok: Penebar Swadaya 2004), h, 49

[57] http://en.wikipedia.org/wiki/Eusmilia Diakses Pada Tanggal 16 Februari 2013 Jam 21:08 Wita.

[58] http://www.iucnredlist.org/details/133466/0 Diakses Pada Tanggal 16 Februari 2013 Jam  21.28 Wita

[59]Supriharyono, M.S, Pengelolaan Ekosistem Terumbu Karang (Jakarta: Djambatan, 2000), h. 1.

[60]M. Ghupran H. Kordi K,  Ekosistem Terumbu Karang (Jakarta: Rineka Cipta, 2010), h. 6.

[61]http://wacanasainsperikanan.blogspot.com/2010/09/anatomi-karang.html Di Akses Pada Tanggal 20 Juni 2012 Pukul 21.30 WITA.

[62]Puspitaningasih, Mengenal Ekosistem Laut & Pesisir (Jawa Barat Indonesia: Pustaka Sains 2012), h. 22.

[63]Puspitaningasih, Mengenal Ekosistem Laut & Pesisir (Jawa Barat Indonesia: Pustaka Sains 2012), h. 19.

[64]M. Ghupran H. Kordi K,  Ekosistem Terumbu Karang (Jakarta: Rineka Cipta, 2010), h. 9.

[65]Supriharyono, M.S, Pengelolaan Ekosistem Terumbu Karang (Jakarta: Djambatan 2000), h. 61.

[66]Seri Agrihobi, Akuarium Laut Cara Mudah Memindahkan Panorama Kehidupan Laut Kerumah Anda (Depok: Penebar Swadaya 2004), h, 49.

[67] Seri Agrihobi, Akuarium Laut Cara Mudah Memindahkan Panorama Kehidupan Laut Kerumah Anda (Depok: Penebar Swadaya 2004), h, 49